header rumah kita

8 Cara Ampuh Membentuk Konsep Diri Anak, Sudah Melakukannya?

Konten [Tampil]
membentuk konsep diri anak
Assalammualaikum. Maaf telah membuat sohib parents menunggu lama. Sudah nggak sabar ya ingin membaca tahapan dalam membentuk konsep diri anak?

Fyi, postingan Ini adalah bagian ketiga dari Resume Samperine (Seminar Parenting Online) bersama Abah Ihsan. Buat para sohib parents yang belum membaca bagian pertama dan keduanya, jangan lupa untuk membacanya terlebih dahulu, agar info yang diterima bisa utuh.

Part 2: Pengertian dan Unsur Konsep Diri Serta Kapan Waktu Dibentuknya

Tanpa banyak panjang lebar, yuk kita gali lebih dalam bagaimana cara membangun konsep diri anak.

8 Tahapan untuk Membentuk Konsep Diri Anak

Abah Ihsan menyebutkan 8 tahapan dalam membentuk konsep diri anak. 8 tahapan ini harus dilakukan secara berkesinambungan. Jika tidak dilakukan salah satunya maka akan menghadirkan ketimpangan dalam prosesnya.
 
Jadi, apa saja ya tahapan tersebut?

1. Bangun Hubungan dan Interaksi Positif dengan Anak

Bagi para alumni PSPA (Program Sekolah Pengasuhan Anak) pastinya sudah nggak asing lagi dengan istilah Gerakan 1821. Yaitu family time yang khusus dibuat dan dibiasakan, mulai dari jam 18.00 - 21.00. Pada jam-jam tersebut, segala kotak-kotak disingkirkan.

Apa itu kotak-kotak? Segala macam benda berbentuk kotak yang seringkali menyita perhatian. Seperti, HP, televisi, kompor, dan koran. Adakah benda kotak lainnya yang bisa jadi gangguan? Simpan dulu di jam-jam tersebut.

Lalu ngapain 3 jam itu? Bebas! Mau ngobrol, mau main bareng, atau belajar bareng. Silakan disesuaikan dengan kebutuhan keluarga masing-masing. Intinya pada 3 jam itu, seluruh keluarga harus berkumpul dan berkegiatan bersama.

Istilah kerennya, kita bisa melakukan 3B, yaitu:
  • bermain (biasanya cocok untuk anak-anak di bawah 12 tahun),
  • berbicara (lebih cocok diaplikasikan pada keluarga yang punya anak di atas 12 tahun),
  • belajar (mix buat semua usia).
Untuk tipe belajar, anak di bawah 12 tahun bisa belajar akademis, membaca Quran, membaca Iqro, atau berkisah. Abah Ihsan berpesan sebaiknya pelajaran mengaji di awal (surat-surat pendek dan Iqro) lebih baik tidak dioutsourcingkan/ diserahkan kepada pihak ketiga. Selain meningkatkan bonding, tentu anak akan lebih bangga jika di waktu awal belajarnya, orangtuanya sendiri yang membimbing mereka.

Jangan terlampau khawatir ketika anak belum bisa membaca, di saat anak-anak tetangga sudah mulai bisa terampil membaca di usia TK. 6 bulan sebelum masuk sekolah formal SD, ajarin. Insya Allah kalau udah waktunya, dan anak-anak sudah siap, cepet kok.

Sabar, jangan terlalu membandingkan anak kita dengan orang lain. Yang lebih cepet, belum tentu lebih baik.

Sementara itu untuk anak di atas 12 tahun, ajak mereka untuk belajar memaknai hidup. Misal saat lagi di jalan ada pengemis atau anak jalanan, tanyai pendapatnya. Atau ketika menonton film bareng, ajak diskusi tentang isi film dan insight apa yang bisa didapat. Bisa juga berdiskusi tentang isi buku.

Pastinya di 3 jam spesial tersebut, tidak boleh ada yang menyendiri di kamarnya sendiri. Tidak ada yang beralasan sedang sibuk. Sehari kita punya 24 jam, masa meluangkan waktu 3 jam saja untuk keluarga kesusahan?

Pernah dengar kalimat bijak seperti ini kan;
Uang bisa dicari kapan saja, tetapi masa anak-anak hanya berlangsung sekali dan tak akan bisa terulang lagi.
Masa anak-anak adalah masa paling mudah bagi kita untuk menghabiskan banyak waktu dengan mereka. Juga masa terbaik untuk menginstal kebaikan-kebaikan. Semakin banyak waktu yang kita habiskan bersama mereka, semakin kuat bonding antara orangtua dan anak.
membangun interaksi positif dengan anak
Selain menjalankan Gerakan 1821, kita juga bisa membangun hubungan dengan setiap anak lewat Private Time. Berbeda dengan 1821, di mana seluruh keluarga berkumpul bersama. Ada kalanya anak perempuan harus ngobrol atau bepergian sendiri dengan ibunya, begitu juga anak laki-laki bersama ayahnya, dan nanti di lain kesempatan saling bertukar jadwal.

Untuk anak yang menuju remaja, bisa dimulai sejak anak berusia 10 tahunan, Private Time ini bisa menjadi cara ampuh untuk berkomunikasi. Apalagi saat mereka mulai malu-malu ngobrol bersama kakak adiknya. Private Time bisa jadi cara asyik untuk ngobrol dari hati ke hati.

Private Time ini nggak perlu sering-sering. Cukup satu bulan sekali untuk tiap anak. Kalau bingung mau ngobrolin apa, canggung. Mulai saja dengan obrolan-obrolan yang nggak jelas. Orangtua dan anak yang sering ngobrol nggak jelas, nggak akan puyeng lagi saat harus memulai sebuah bahasan yang cukup penting. Karena anak sudah merasa nyaman untuk mengeluarkan uneg-uneg di hatinya kepada orangtua.

Di keluarga kami, Kak ifa yang sudah mulai dapat jatah Private Time. Di usianya yang kesembilan, terkadang dia pengen keluar hanya dengan bunda atau ayahnya, tanpa si adik nginthil dan ngrempongin, wkwk.

Memang sih membiasakan Gerakan 1821 dan Private Time di keluarga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Buat kami yang sudah mengenal cara ini sejak 2015, dalam pembiasaannya masih jatuh bangun. Konsisten memang tantangan terberat. Tapi kalau ingat dengan pertanyaan Abah,
Mau susah di awal atau susah di akhir?
Ya, memang kalau mau jadi orangtua beneran, usahanya pun nggak bisa setengah-setengah ya sohib parents.

Btw, adakah yang sudah konsisten menjalankan 1821 di rumahnya masing-masing?

Abah Ihsan pada saat Samperine menyatakan sebuah data bahwa anak remaja di Amerika yang banyak ngobrol dengan orangtuanya, memiliki daya tahan yang lebih kuat. Begitu juga sebaliknya.

Sering mengajak anak ngobrol bisa meningkatkan rasa keberhargaan di diri anak. Anak yang merasa dirinya berharga di mata kedua orangtuanya, tidak akan mau melihat orangtuanya sedih dan kecewa.

Interaksi positif antara orangtua dan anak juga akan membangun kepercayaan anak pada orangtuanya. Sehingga anak tidak akan ragu menceritakan rasa gundah, khawatir dan segala hal yang dirasakannya. Anak juga nggak akan ragu meminta pendapat orangtua saat ia sedang membutuhkan saran dari orang terpercaya.

2. Jelaskan Identitas Anak

Menjelaskan identitas anak bukan hanya soal namanya siapa, rumahnya di mana. Namun ia harus paham dengan benar siapa dia dan perannya di dalam keluarga. Anak harus paham bahwa setiap peran di dunia memiliki hak dan tanggung jawabnya masing-masing. Oleh karenanya orangtua harus mengajarkan kepada anak tentang:
menjelaskan identitas anak

Hak, Tanggungjawab dan Adab

Banyak beredar tentang anjuran untuk tidak merampas hak-hak anak. Namun sayangnya sedikit yang membagikan tentang tanggungjawab dan kewajiban seorang anak. Sehingga akhirnya sekarang ini banyak orangtua yang takut anaknya tidak bahagia, mereka menghujani anak dengan hak-hak, fasilitas dan kesenangan. Tapi tidak disertai dengan panduan apa saja tanggungjawab dan kewajiban yang dimilikinya.

Di Jepang, anak-anak yang berusia 20 tahun dikumpulkan dan diwisuda. Mereka dijelaskan apa saja kebebasan-kebebasan baru yang bisa mereka dapatkan sebagai manusia berusia 20. Namun tak hanya itu saja, mereka juga diberi tahu batasan-batasanapa saja.

Sehingga saat mereka dilepas sebagai orang dewasa di luar rumah, mereka telah tahu kewajibannya. Bahkan biasanya anak-anak yang telah paham akan batasan dan tanggungjawab, akan merasa malu ketika masih merepotkan kedua orangtua. Sesulit-sulitnya keadaan yang dihadapi, mereka akan berusaha untuk mengatasinya sendiri.

Kita juga bisa lo mengadopsi cara masyarakat Jepang. Saat anak beranjak baligh, jadikan itu sbeagai hari istimewa. Buatlah acara wisuda di rumah, jika punya rezeki lebih bisa undang keluarga besar. Lalu di acara tersebut, bacakan apa saja hak-hak baru mereka sebagai manusia dewasa beserta tanggungjawab yang menyertainya.

Anak-anak juga perlu tahu bahwa setiap individu memiliki peran bermacam-macam. Peran-peran itu antara lain sebagai anak dan anggota keluarga, sebagai warga bertetangga, sebagai warga negara dan sebagai manusia ciptaan Allah.

Setiap peran yang menempel pada diri manusia memiliki hak dan kewajibannya masing-masing. Oleh karenanya, anak-anak juga perlu dilatih adab bertentangga, adab dengan guru, dsb.

Buat Batasan-batasan Pengasuhan

Ada beberapa hal penting yang dijabarkan Abah Ihsan pada poin ini;

A. Batas Waktu Orangtua Mengurusi Anak

Berikan penjelasan kepada anak sampai kapan orangtua akan mengurus anak. Di dalam UU 35/ 2014 tentang Perlindungan Anak dan UU 1/ 1974 tentang perkawinan, dinyatakan secara harafiah bahwa yang disebut dengan anak itu mereka yang berumur 0 - 18 tahun.

Maka jika menilik dari kedua UU tersebut, orangtua bisa lepas tangan dari kewajibannya mengurus anak saat seorang anak berusia 18 tahun atau ketika mereka sudah menikah. Itu kenapa di luar negeri, anak-anak akan ke luar dari rumah orangtuanya ketika umurnya 18 ya?

Namun di Indonesia nampaknya usia 18 masih diangggap remaja. Oleh karenanya Abah Ihsan memberikan saran usia paling pas sebagai batas waktu orangtua mengurus anak adalah usia 25 tahun. Alasannya tentu saja, pada saat itu anak biasanya sudah selesai kuliah dan mulai bekerja.

Hal seperti ini terlihat sepele, tetapi jika tidak dibicarakan bisa timbul masalah-masalah yang tak sepele. Apalagi jika sebelumnya orangtua terlalu memanjakan anak dengan fasilitas. Banyak kan di sekitar kita, sudah lulus kuliah tapi nggak punya niat untuk cari kerja, dan masih bergantung pada kedua orangtuanya?

Maka katakan pada anak-anak kita, fyi… kami pun sudah mulai sounding lo ke Kak Ifa tentang batasan usia kami mengurusinya. Bahwa setelah 25 tahun, ayah bunda tidak akan menyubsidi lagi. Artinya, anak perempuan di usia tersebut masih boleh tinggal di rumah, tapi untuk uang saku harian silakan cari sendiri. Karena kewajiban orangtua terhadap anak perempuan selesai ketika mereka menikahkannya.

Sementara itu anak laki-laki yang sudah berusia 25 tahun, wajib keluar dari rumah. Bukan mengusir, hanya memberi kesempatan bagi mereka untuk berdiri di atas kaki sendiri.

Kalau nanti di luar kenapa-kenapa gimana? Jika dari usia 0 - 24 tahun, kita sudah membekalinya dengan wawasan, ilmu dan agama, insya Allah inilah saatnya anak-anak mulai bertanggungjawab atas segala pilihan hidupnya.

Bagaimana jika sebelum usia 25 tahun mereka sudah memutuskan menikah? Alhamdulillah, artinya tanggungjawab sebagai orangtua sudah selesai lebih cepat dong. Masa anak sudah menikah kita masih mau ngrempongin mereka. Biarkan anak-anak tumbuh dewasa, sohib parents.

Obrolan ini tentu saja nggak bisa dilakukan semacam tahu bulat alias dadakan ya. Harus dilakukan secara intens dan berulangkali. Setidaknya ulangi saat anak berusia 7 tahun, saat mereka baligh (anak perempuan menstruasi dan anak laki-laki mendapatkan mimpi basahnya), saat anak berusia 18 dan ketika anak menginjak umur 24 tahun.
batas waktu mengurusi anak
Oleh karenanya jika nanti ada anak remaja yang mulai sok menuntut kebebasan saat dinasehati orangtua dengan berkata, “Nggak usah ikut campur urusanku, Bun. Aku udah gede, udah tahu harus ngapain.” Jangan pening, sohib parents. Take it easy, bilang saja ke anak, “Alhamdulillah, berarti anak bunda sudah mandiri nih ya? Nggak perlu disubsidi dong?

Lalu mulai hari itu, larang anak makan masakan kita, ambil HPnya, nggak boleh nonton tv. Cabut semua kebebasan yang ada di rumah. Kalau mereka protes, kembalikan lagi kata-kata mereka, “Katanya udah gede, nggak mau diurusin. Kalau nggak mau diurusin, berarti urus diri kamu sendiri. Termasuk cari makan sendiri, cari uang saku sendiri dan nggak pakai fasilitas yang ada di rumah ini.

Kalau anak kembali protes, sampaikan kalimat pamungkas, “Jika kamu masih mau memakai fasilitas yang ada di rumah ini dengan bebas, artinya harus mau mengikuti aturan yang ada di rumah ini. Gimana, mau nggak?

Abah Ihsan kembali melanjutkan. Jangan takut kalau anak kabur. Jangan panik duluan, sohib parents. Anak nggak akan betah lama-lama kabur. Ketika uangnya habis, yakin deh mereka akan pulang. Saat mereka pulang, kata Abah bilang ke mereka, “Kabur itu nggak sopan. Kalau memang niat kabur nggak usah pulang lagi.”

Sayangnya kita suka keder duluan ya. Padahal ya belum tentu anak kita melakukan hal-hal yang kita takutkan. Apalagi kalau tahap pertama dalam membentuk konsep diri anak sudah dilakukan, artinya komunikasi dan bonding kita sama anak udah oke dong?

Maka ngobrolin hal yang terasa serem ini nggak akan sesulit bayangan kita kok. Yakin deh, anak-anak akan bisa jalan dengan tegak saat kita memberikan kepercayaan kepada mereka untuk berjalan sendiri.

Jangan terlalu takut dengan hasil yang tidak sesuai kenyataan. Karena kelak yang akan dihisab adalah usaha kita. Jika kita sudah berikhtiar sebaik mungkin sebagai orangtua beneran, maka serahkan semuanya kepada Sang Pemilik Jiwa. Namun biasanya sih hasil nggak mengkhianati usaha kok.

Bagian dari cinta itu ada dua, yaitu pengasih dan penyayang. Dua hal ini harus ada, tidak boleh hanya ada salah satunya. Contoh sikap pengasih yaitu membuatkan nasi goreng kesukaan anak. Contoh sikap penyayang yaitu mengajarkan anak untuk membuat nasi goreng sendiri.

Ada kalanya sebagai orangtua kita keluarkan sisi pengasih, namun kita juga harus memiliki sisi penyayang. Itulah cinta yang utuh. Cinta tanpa syarat bukan berarti membiarkan anak bertindak sewenang-wenang.

B. Kebutuhan Anak Dipenuhi, Kesenangan Anak Dibatasi

Ajak anak berdiskusi tentang hak dan kewajibannya. Untuk mendiskusikan hal ini, orangtua bisa memulai dengan membaca UU 35/ 2014 tentang Perlindungan Anak. Pada UU tersebut sudah tertulis dengan jelas apa saja hak-hak anak, meliputi hak perorangan/ pribadi, hak kesehatan, hak pendidikan, hak sosial kemasyarakat, dan hak hukum.
mengena lhak dan kewajiban anak
Setelah itu ajak juga anak untuk memahami hak-hak anak menurut agama. Di dalam Islam ada beberapa ayat yang bisa dijadikan patokan tentang hal ini. Insya Allah dalam postingan selanjutnya akan kami bahas lebih lanjut tentang hak dan kewajiban anak menurut agama islam ya, sohib parents.

Jangan hentikan diskusi sampai sini. Setelah anak tahu haknya, orangtua juga perlu memberi tahu bahwa setiap hak selalu disertai dengan kewajiban. Tidak ada kebebasan yang benar-benar bebas.

Sampaikan pada anak bahwa hak mereka adalah kewajiban bagi orangtua untuk menunaikannya. Sementara kewajiban anak adalah hak bagi kedua orangtuanya. Begitulah kehidupan ini, ada kata SALING mengisi dan melengkapi.

Pernah dengar kalimat yang khas disampaikan oleh banyak orangtua seperti ini;
Waktu kecil aku sudah hidup susah. Sekarang aku nggak mau anak-anakku mengalami hal yang sama. Biarkan saja ia merasakan enaknya saja.
Melatih anak tanggungjawab bukan berarti harus mengalami kesusahan yang kita alami di masa kecil kok. Namun melatih mereka untuk memiliki skill. Lagipula, kesenangan yang terus-menerus diberikan, tidak akan memiliki makna.

C. Ortu Boleh Menyuruh Anak, Anak Hanya Boleh Minta Tolong

Diktator dong? Nggak juga. Ada alasan kenapa kalimat ini hadir. Terlebih bukan berarti orangtua boleh menyuruh anak sesuka hati dong. Yang dimaksud di sini adalah menyuruh anak mengerjakan kewajibannya. Atau menyuruh anak melakukan tanggungjawabnya.

Tidak ada satupun anak yang boleh menyuruh anggota keluarga lainnya. Hanya boleh minta tolong.

Adik kakak harus saling menghormati, yang boleh menyuruh hanya ortu. Adik kakak boleh minta tolong, dengan syarat, dilakukan dengan sopan dan jika aktivitas tersebut tidak bisa dilakukan sendiri. Atau jika aktivitas yang dilakukan untuk kepentingan umum.
cara menyuruh dan minta tolong
Jika anak bertanya kenapa ortu boleh menyuruh anak?

Jawabannya sederhana, karena ortu bekerja untuk anak tanpa disuruh. Orangtua momong, ngasuh, dsb. Lalu ajak anak berdiskusi, pekerjaan anak untuk orangtua apa? Biasanya akan keluar jawaban “Membantu orangtua”. Nah, salah satu cara membantu yaitu mau saat disuruh.

Kalau anak merasa ribet dan nggak mau ada aturan di rumah. Nggak perlu pusing. Iyakan saja keinginan anak. Bilang kepadanya, “Mulai hari ini di rumah nggak ada aturan. Kalau kamu nggak suka ayo bicara, uji material.” Lalu biarkan 2 hari tanpa aturan.

Bunda bebas nggak menyiapkan makanan untuk anak, ayah bebas pulang malam dan nongkrong setelah kerja. Lama-lama anak akan merasa nggak nyaman dan kemudian akhirnya minta aturan.

Namun ingat ya, hal-hal ini hanya akan terjadi saat komunikasi dan bonding yang dilakukan di tahap pertama sudah oke. Jika belum, ya anak akan woles aja ketika orangtuanya santai-santai, hehe.

D. Setiap Anak Diberikan Hak/ Kesenangan, Berikan Juga Batasannya

Masih berkaitan dengan memahamkan anak atas hak dan kewajiban. Di bagian ini adalah praktik konsistensi untuk anak dan orangtua. Sekalinya orangtua nggak konsisten, anak pun nggak akan lagi percaya pada orangtua.
kebebasan dan batasan anak
Contohnya: Karena pandemi dan harus belajar secara daring, mau tak mau orangtua memberikan fasilitas Handphone atau laptop untuk melaksanakan kewajibannya sebagai murid. Setelah selesai belajar, anak boleh tetap memainkan HP dan laptopnya, syaratnya hanya 2 jam.

Nah, ketika anak ternyata menggunakannya lebih dari waktu yang sudah disepakati. Orangtua berhak untuk mencabut hak bermain HP atau laptopnya. Di hari berikutnya, HP dan laptopnya hanya akan dikeluarkan di jam belajar daring.

3. Tindak Keburukan Anak (Talk Less Do More), Ucapkan Kebaikan Anak (Express It Don’t Quite)

Saat anak bermasalah, jangan terlalu banyak diomongin, tapi langsung saja berikan tindakan sesuai dengan aturan yang telah disepakati. Jangan terlalu banyak bicara ketika anak melakukan keburukan, karena ketika kita sedang jengkel, biasanya kita akan cenderung mengeluarkan hal-hal negatif pada anak.
tindak saat salah, puji saat baik
Sementara ingat lo, setiap ucapan orangtua adalah doa. Termasuk saat kita sedang merutuki anak. Makanya jangan bicara saat lagi jengkel, ungkapkan kekecewaan kita ketika hati sudah tenang. Alih-alih banyak ngomong, segera tindak anak bermasalah dengan SOP, konsekuensi, dan ketegasan.

Sebaliknya, saat anak berbuat baik maka tunjukkan apresiasi kita. Jangan takut lebay. Anak-anak yang sering mendapat apresiasi akan merasa berharga.

Sayangnya seringkali sebagai orangtua kita malah melakukan kebalikannya. Terlalu banyak ngomong dengan tameng berbungkus nasehat saat anak melakukan keburukan. Dan nggak ada omongan apapun yang keluar dari mulut saat anak melakukan kebaikan.

4. Berikan Kesempatan Anak untuk Menyelesaikan Kesulitan

Kepercayaan diri dibangun dengan bertindak bukan dengan berpikir. Kepercayaan diri adalah sebuah kebiasaan yang dapat diasah dan diperkuat setiap hari.

Oleh karenanya berikan anak kesempatan untuk mengalami dan menyelesaikan sebuah urusan. Dengan begitu mereka akan memiliki kepercayaan diri bahwa mereka mampu melewati sebuah kesulitan.
melakukan proyek
Akar dari semua masalah kepercayaan diri adalah ketakutan dalam pikiran. Ketakutan membuahkan keraguan dan keraguan menghilangkan kepercayaan diri. Maka ketakutan hanya dapat dibungkam dengan tindakan. Yakinkan anak untuk mencoba hal yang paling mereka takuti. Setelahnya mereka akan sadar bahwa itu bukanlah hal besar.

Ketika ketakutan itu telah berhasil mereka taklukkan, akan timbul rasa yakin dan percaya diri di dalam jiwanya, bahwa setiap kesulitan bisa diatasi.

5. Biarkan Anak Berperan Lewat Chores

Yang dimaksud dengan chores adalah housework alias pekerjaan rumah. Aktivitas yang dilakukan untuk keluarga. Misal, menyapu, membuang sampah, mencuci piring, mengepel, dan sebagainya.

Anak-anak bisa mulai dilatih mengerjakan urusan rumah tangga sejak berumur 7 tahun. Setiap anak bisa diberikan satu jenis pekerjaan rumah tangga sebagai tanggungjawabnya. Setiap bulan jenis pekerjaan ini akan diganti.
peran anak di rumah
Hal ini dilakukan agar anak bisa menguasai banyak jenis pekerjaan rumah tangga. Selain itu juga mendidik anak bahwa mengurusi rumah bukan hanya sekadar pekerjaan perempuan. Baik laki-laki dan perempuan harus bisa mengerjakan chores.

Berikut ini tujuan melibatkan anak dalam melakukan urusan rumah tangga:
  • Membuat anak merasakan tanggung jawab.
  • Membuat anak tidak abai dengan keadaan sekitar, peduli lingkungan bukan yang merusak lingkungan.
  • Mendorong anak untuk respek.
  • Mengajarkan dalam kehidupan nyata tentang RULES & COMPLIANCE.
  • Membentuk kesadaran mengenai diri sendiri, orang lain dan lingkungan dimana mereka berada.
  • Membuat mereka berkontribusi terhadap orang lain.
  • Mereka merasa berharga because it feel good to complete the task
  • Prepares them for adulthood.

6. Shaving the Goal

Bnyak pakar parenting berkata bahwa idealnya, sebelum berusia 12 tahun anak-anak sudah menemukan misi hidupnya. Nah, tugas kita sebagai orangtua untuk mengajak anak berlatih menajamkan tujuan sebelum mengambil pilihan tindakan.

Contohnya, saat anak-anak memilih sebuah cita-cita. Ajak mereka berdiskusi mengapa memilih cita-cita tersebut, apa landasan mereka memilih hal itu dan bagaimana caranya mencapai cita-cita tersebut.
prinsip dalam membuat keputusan
Setelah membiarkan anak mengungkapkan ide-idenya, ajarkan anak untuk memegang 3 prinsip sederhana sebagai batasan dalam mengambil keputusan apapun. Yaitu;
  • Apakah keputusan yang mereka ambil akan mendapat ridho Allah atau tidak?
  • Apakah keputusan tersebut membawa dampak positif bagi orang lain?
  • Apakah keputusan tersebut membawa dampak positif bagi diri sendiri?

7. Dukung dan Kembangkan Minatnya

Jangan titipkan mimpi-mimpi kita kepada anak. Mereka adalah individu yang berbeda dari diri kita. Biarkan mereka mengembangkan bakat dan minatnya masing-masing, selama masih dalam batasan yang ada pada tahap ke enam.
mengembangkan minat anak
Saat orangtua mendukung minat anak, ia merasakan bukti konkrit bahwa orangtuanya benar-benar ingin hidupnya berkembang, bahwa orangtua ingin ia bahagia. Saat anak dapat melakukan apa yang dicintainya, ia cenderung memiliki “asupan” positif terhadap kebahagiaannya.

8. Bimbing Anak memilih Teman Pergaulan

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang saleh dan orang yang buruk, bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu, engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak sedap.” (HR. Imam Bukhari).
Hadits di atas adalah panduan paling tepat untuk mengajarkan anak tentang pentingnya memilih teman. Ajarkan anak untuk membuat zonasi pergaulan. Kapan seseorang bisa dijadikan sahabat, kapan seseorang hanya perlu dijadikan teman sekenalnya dan kapan haram dijadikan teman dekat.
zonasi pergaulan
Ajarkan anak untuk mengenali pula ciri-ciri toxic friendship. Katakan kepada anak-anak untuk menghindari orang-orang yang;
  • menyebarkan “negativity,”
  • sering merendahkan dan membicarakan kesalahan orang lain,
  • terlalu sering baper, terlalu sering marah dan melampiaskan kekecewaan kepada orang lain,
  • egois dan tidak menghormati privasi dan barang pribadi mereka,
  • tidak tertarik untuk berubah dan tak berminat belajar.
8 tahapan di atas tentu saja bukanlah hal yang mudah untuk dipraktekkan. Namun dengan kesungguhan hati dan niat lillahita’ala untuk membentuk konsep diri anak yang positif, tentu hal yang sulit tak akan menyurutkan langkah kita kan? Mari sama-sama berjuang, sohib parents. Semoga Allah meridhoi setiap perjalanan pengasuhan kita. Aamiin. Wassalammualaikum.
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

1 comment

  1. semangat untuk para orang tua, kita pasti bisa :D

    ReplyDelete

Post a Comment