header rumah kita

Pentingnya Membangun Konsep Diri Positif Pada Anak, Mau Tahu?

Konten [Tampil]
pentingnya membangun konsep diri

Assalammualaikum. Senang sekali kami bisa kembali menjumpai sohib parents hari ini. Pada hari Minggu, 18 April 2021 yang lalu, bundanya anak-anak berkesempatan untuk belajar membangun konsep diri positif, di kelas Samperine (Seminar Parenting Online) asuhan Abah Ihsan.

Beliau merupakan salah satu mentor parenting favorit kami. Jadi jangan heran kalau nama beliau akan sangat sering disebut-sebut di berbagai postingan blog ini. Sejak mengikuti Program Sekolah Pengasuhan Anak pada 2015, kami sudah jatuh cinta dengan materi-materi yang disajikan oleh Abah Ihsan. Sebisa mungkin setiap kali Abah ada kelas, kami akan mengikutinya.

Konsep diri anak memang menjadi hal yang perlu mendapat perhatian khusus. Apalagi buat kami yang masih berproses menjadi orangtua beneran. Sadar atau tanpa sadar kadang melakukan hal-hal yang bukannya membangun konsep diri positif pada anak, tapi justru membangun konsep diri negatif pada dirinya.
Di awal kelas, Abah Ihsan memberikan contoh sederhana tentang konsep diri anak yang tidak terbangun dengan baik, yaitu adanya anak-anak yang sampai gede (tua) masih minta subsidi dari kedua orangtuanya.
Berhubung materinya cukup padat dan panjang. Sepertinya obrolan tentang membangun konsep diri positif pada anak akan kami sajikan dalam bentuk serial. Postingan ini akan menjadi artikel pertama terkait menumbuhkan konsep diri positif pada anak.

Mengapa Membangun Konsep Diri Positif pada Anak Sedemikian Penting?

Mengawali kelas ini, Abah Ihsan mengajak para peserta untuk memahami dulu mengapa membangun konsep diri adalah hal yang substansi dalam pengasuhan anak. Mungkin sebagian besar dari kita berpikir, ah dulu ortuku nggak ngerti soal konsep diri anak tapi aku baik-baik aja. Kenapa sih kita perlu tahu tentang konsep diri?

Terkadang kita tak sadar menuntut anak punya konsep diri, tapi hanya menuntut saja. Lucunya kita baru menjelaskannya saat masih bermasalah. Misal, “kamu kok berantakan melulu sih nak, itu mbok buku dan mainannya ditaruh lagi to di tempatnya,” dsb. Pernyataan tersebut sebenarnya adalah tuntutan agar anak memiliki konsep diri, tapi seringnya kita nggak sadar kan ya?

Pengen anak tumbuh jadi sosok yang rapi, tapi tidak ditunjukkan bagaimana caranya. Hanya saat mainannya berantakan, omelan sepanjang rel kereta nyerocos tanpa henti. Ini adalah cara membangun konsep diri anak yang kurang tepat.

Coba deh, kita saja kalau sedang tertekan dan bermasalah, mau makan terasa susah, apalagi dituntut ini itu. Begitu juga dengan anak-anak. Saat mereka dimarahi, mereka akan merasa tertekan. Nasehat baik yang keluar dari mulut kita dengan cara marah-marah, tidak akan membangun konsep diri positif.

Justru konsep diri negatif yang akan terbentuk jika kita menasehatinya saat marah-marah. Apalagi kalau kita mengungkit masalah sampai mana-mana. Tidak fokus pada satu titik.
Jadi orangtua yang amanah itu memang capek, tapi yakinlah capeknya di depan. Kebalikannya dengan ortu cuek, capeknya nanti di belakang. Sekarang pilihan ada di tangan kita. Mau jadi orangtua yang amanah atau cuek? - Abah Ihsan
Kesuksesan atau kalau bahasa akhiratnya bisa dikatakan sebagai surga, tidak bisa dicapai dengan perjalanan yang mulus-mulus saja. Semakin orang sukses, semakin banyak masalahnya. Begitu juga halnya dengan mengasuh anak. Pengen punya anak shalih berkonsep diri positif jelas membutuhkan proses yang panjang. Tidak setahun, dua tahun.

Kembali ke pertanyaan awal, kenapa sih kita perlu tahu tentang konsep diri? Ini dia jawabannya!

fungsi konsep diri

A. Agar Anak Memahami Identitas dan Punya Tujuan Hidup yang Jelas

Bayangkan orang yang amnesia, dia nggak tahu siapa dirinya, dari mana dirinya, mau ngapain dirinya. Sayangnya banyak orang yang otaknya sehat, tapi software/ valuenya error. Bingung siapa dirinya, tujuan dirinya, dsb.

Tahukah sohib parents, orang-orang seperti itu akan mengalami penderitaan tanpa ujung. Seperti orang yang terombang-ambing di lautan.
Oleh karenanya penting bagi kita untuk mengajarkan anak tentang identitas diri dan menemukan tujuan hidupnya. Memahami identitas, bukan berarti sekadar tahu siapa nama mereka, tapi juga tahu perannya apa, tanggung jawabnya apa. Untuk apa sih dia dilahirkan di muka bumi ini.

 

B. Agar Bisa Fokus pada Tujuan Baik Sehingga Tidak Mudah Galau/ Hilang Arah

Jika kita atau anak-anak gagal memahami peran diri, kita juga akan tumbuh menjadi manusia-manusia yang tak tahu batasan-batasannya apa saja.

Misal suatu saat nanti, kita akan berperan sebagai mertua. Kalau tahu batasan mertua apa, tidak akan memaksa anak dan menantu tinggal bersama mereka, tidak ikut campur pada keluarga anaknya, dsb.

Contoh lainnya, jika kita tak menyadari peran diri sebagai istri, kemudian kita menolak ikut suami, dan lebih memilih ikut ortu. Ini berarti nggak tahu batasannya sebagai istri apa.
Manusia-manusia yang nggak fokus pada tujuan, dan fokusnya hanya pada tantangan/ masalah, kita akan mudah jatuh dan berhenti. Berbeda ketika kita bisa fokus pada tujuan, kita akan melihat tantangan/ masalah sebagai batu sandungan kecil dan tetap tidak menyerah sebesar apapun masalah yang sedang dihadapi.
Motif yang lemah akan membuat kita mudah tumbang, sebaliknya motif yang kuat akan membuat kita terus berjuang. Misal, kenapa orang mau susah-susah sholat, karena tahu itu perintah Allah dan ikhtiar mendapat surga. Atau kenapa mau susah-susah puasa, karena tahu selain perintah Allah, puasa juga proses mengistirahatkan pencernaan.

C. Membentuk dan Menguatkan Karakter Positif

Abah Ihsan merekomendasikan para peserta untuk menonton film dokumenter Social Dilemma. Di dalam film tersebut, kita akan diperlihatkan sebuah fakta, bahwa sejak ada perkembangan teknologi media sosial dan gadget, banyak anak remaja yang mengalami stress dan depresi.

Nah, di sinilah pentingnya anak punya konsep diri yang jelas. Cobalah kita tengok saat ini di medsos, banyak jari-jari orang yang nggak punya otak dan hati. Nggak ketemu orangnya, nggak kenal orangnya secara langsung, langsung komentar ABCDZ.

Kalau konsep diri anak nggak kuat, ia bisa stress saat berselancar di dunia maya dan bertemu dengan orang-orang yang kontra dengan pendapatnya semacam itu.

Beda dengan anak-anak zaman dulu, saling mengejek tapi langsung bertemu muka, sehingga bisa saling bantah-bantahan/ berdiskusi.

Tanpa disadari, di era sekarang ini, setiap hari kita menerima informasi dari luar termasuk ‘judgement’ tentang diri kita oleh orang lain. Orang lain bisa dengan bebas bisa mengatakan kita begini dan begitu, padahal ketemu saja tidak.

Di era media sosial, “social approval” seolah menjadi penting. Namun apakah benar penilaian orang yang tak mengenal kita adalah valid?
Di sinilah fungsi memiliki konsep diri yang kuat, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang tak membutuhkan social approval, karena tahu siapa dirinya dan tujuan hidupnya. Pikiran negatif tentang diri sendiri akan mendorong hasil negatif. Begitu juga sebaliknya, pikiran positif akan mendorong hasil yang positif.

 

D. Membentuk Pribadi yang Bertanggungjawab, Care dan Know What Should I Do

Coba deh ajak anak-anak kita ngobrol tentang hak dan tanggungjawabnya sebagai anak, kira-kira mereka paham nggak sih. Begitu juga saat nanti anak-anak tumbuh jadi istri dan suami, anak-anak tahu nggak hak dan kewajiban atas peran tersebut.
Jika sejak awal kita tak tahu-menahu tentang hak dan kewajiban atas sebuah peran, ya jangan kaget kalau kita hidup seadanya. Anak-anak jauh sebelum nikah harus paham terlebih dahulu hak dan kewajibannya.
Untuk anak perempuan, kami sepemikiran dengan apa yang diterapkan oleh Abah Ihsan. Bahwa sebagai orangtua kita boleh mengajarkan anak perempuan untuk mengejar cita-cita, tapi mereka juga nggak boleh lupa kalau ada tanggungjawab sebagai istri dan ibu. Kalau bisa pilih kerjaan yang flexi hours. Ketika anak sudah mulai besar, baru it's okay kalau mau kerja dengan office hours.

Kalau sebagai perempuan kita memang banyak beraktivitas di luar rumah, saran Abah, anaknya jangan banyak-banyak. Bukan membatasi kelahiran tapi membatasi amanah agar lebih tanggungjawab. Nggak lucu kan, kalau punya anak banyak tapi nggak pernah diurusin? Tapi kalau memang banyak stay di dalam rumah, atau merasa mampu mengurus anak sambil tetap seiring sejalan dengan aktivitas bejibun di luar rumah, it’s okay punya banyak anak.

Nah, sekarang tugas kita adalah bertanya pada anak-anak. Tahukah tugas mereka di rumah? Jika jawaban yang keluar atas pertanyaan mereka adalah belajar. Maka jelaskanlah bahwa belajar adalah tugas diri sendiri.

Lanjutkan diskusinya dengan pertanyaan ini, “Apa tugas kamu di rumah sebagai anggota keluarga?

Kita seringkali menuntut anak kewajibannya, tapi nggak pernah menjelaskan list kewajibannya apa saja. Oleh karenanya anak perlu sering diajak ngobrol, dan diajar seperti apa sih definisi sopan, adab-adab dengan ortu, dengan tetangga, dengan orang lain, dengan guru, dsb.

E. Hidup Lebih Tenang dan Bahagia

Btw, hidup tenang dan bahagia bukan berarti kita nggak akan ketemu kesulitan dan masalah ya. Kata umur merupakan serapan dari bahasa Arab, yang memiliki arti asli “urusan/ masalah.” Jadi jangan heran, kalau sepanjang kita punya umur, ya kita bakal selalu ketemu kesulitan dan masalah. Sekaya dan sesukses apapun orang, punya masalah. Anak TK, SD, SMA aja selalu punya masalah.

Orangtua yang punya anak introvert, punya masalah bagaimana caranya memancing mereka agar berani ngomong. Ortu dengan anak ekstrovert, masalahnya lain lagi, yaitu bagaimana melatih anak agar ngobrol sesuai porsi.
Kenapa tahu konsep diri bikin anak bisa jadi lebih tenang dan bahagia? Karena ia akan tumbuh sebagai orang dengan awareness. Orang yang sadar akan diri sendiri seutuhnya. Orang yang bernyawa harus memiliki makna dan nilai. 
Mereka yang tahu makna dan nilai di dalam diri, mereka nggak perlu mencari bahagia dengan kulineran, jalan ke sana ke sini, karena sejatinya kebahagiaan itu sudah ada di dalam dirinya.
Sebaliknya, orang yang belum menemukan makna dan nilai diri akan mengalami kekeringan dalam hidup. Hal itu akan membuat kita kosong, nggak punya arah, galau, dan depresi.

proses membangun konsep diri anak

Inilah bagian pertama dari langkah membangun konsep diri positif pada anak. Sebagaimana ketika kita membangun rumah, kita tentunya perlu tahu apa sih tujuan membangun rumah tersebut. Apa saja fungsi-fungsi ruangan yang ada di dalamnya.

Begitu juga dalam proses membangun konsep diri positif, kita perlu tahu alasan di balik pentingnya hal tersebut. Ketika kita sudah tahu apa manfaat seseorang memiliki konsep diri yang kuat, kita akan lebih semangat dalam prosesnya. Meskipun akan banyak tantangan di depan mata nantinya, jika kita telah tahu buah seperti apa yang akan kita tuai ketika anak-anak memiliki konsep diri yang kuat, setiap kali terjatuh, kita akan bangkit lagi.

Yuk bersama-sama bergandengtangan membangun konsep diri positif pada anak, tetap semangat dan kuat ya, sohib parents. Insya Allah besok akan ada kelanjutan tentang materi ini. So, please stay tune di Rumah Kita! Wassalammualaikum.
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment