header rumah kita

Mengenal Pengertian dan Unsur Konsep Diri, Juga Kapan Dibentuknya?

Konten [Tampil]
mengenal pengertian dan unsur konsep diri

Assalammualaikum. Kembali lagi di Rumah Kita, sohib parents. Ada yang nungguin resume part 2 dari materi Samperine (Seminar Parenting Online) Abah Ihsan tentang membangun konsep diri? Alhamdulillah…

Di bagian kedua ini, kami akan fokus untuk mengenal lebih dalam tentang pengertian dan unsur konsep diri. Tak lupa di akhir artikel ini, kami juga akan menyertakan informasi kapan sih waktu paling tepat untuk membentuk konsep diri. Tanpa berpanjang lebar lagi, cekidot kita mulai.

Apa Itu Konsep Diri?

Istilah konsep diri, memang pertama kali diperkenalkan dari pendidikan Barat. Adapun arti konsep diri yaitu keyakinan individu tentang dirinya sendiri, termasuk atribut orang tersebut dan siapa dan apa dirinya.

Atau kalau dalam bahasa aslinya dikatakan seperti ini;
"The individual's belief about himself or herself, including the person's attributes and who and what the self is." (Baumeister: 1999)
Menurut Abah Ihsan, kalau di dalam agama Islam, konsep diri itu lebih dekat jika disamakan dengan aqoid, bermakna ikatan. Maksudnya yaitu bagaimana kita memaknai keterikatan hidup dengan Allah, alam sekitar dan sesama.

Unsur Konsep Diri

Setelah mengetahui pengertian konsep diri, kita cari tahu lebih dalam tentang unsur-unsur yang membentuknya. Kalau dalam literasi Islam, bisa disebut dengan Udotul Qubro, yaitu tiga pertanyaan dasar yang meliputi dari mana saya, mau ngapain saya, dan hendak ke mana saya.

Hal tersebut tidak jauh dari unsur konsep diri yang diusung oleh para ahli pendidikan barat. Apa sajakah itu?
faktor yang mempengaruhi konsep diri

1. Citra Diri/ Self Image

Unsur ini meliputi pemahaman tentang dari mana saya/ siapa saya. Pandangan kita terhadap diri sendiri.
Biasanya ketika manusia ditanyai tentang dirinya, manusia akan menjawab dengan 4 varian berikut ini:
  • Physical Description/ Ciri-ciri Fisik: Tinggi/ pendek, jenis rambut, warna kulit, gender, dsb. Dalam pengasuhan anak, orangtua bisa fokuskan pada gender. Sudah jelas jika di dalam pendidikan Islam, laki-laki harus berlaku seperti laki-laki, dan perempuan bertingkah laku seperti perempuan.
  • Personal Traits/ Sifat: Meliputi takut gelap, susah ngomong, mudah bergaul, pantang menyerah, dsb.
  • Social Roles/ Peran Sosial: peran yang dimilikinya saat ini, apakah seorang anak, ibu, guru, ayah, dst.
  • Existensial Statements/ Hakikat kehidupan: pemahaman tentang bahwasanya kita adalah manusia, kenapa manusia diturunkan ke dunia. Ini adalah bagian terpenting.
Bukan hanya bagi anak, orangtuanya pun perlu tahu apa misi spesifik hidupnya. Jika kita berhasil menemukan hal ini, maka kita adalah the real human beings, bukan hanya organisme biologis.

2. Self Esteem/ Self Worth

Unsur ini merupakan kemampuan kita dalam memberikan harga dan makna pada diri sendiri. Bagaimana diri kita mengevaluasi diri sendiri.

Meliputi dua macam;
  • Harga Diri Tinggi, artinya kita memiliki pandangan positif terhadap diri sendiri. Orang yang memiliki self worth yang tinggi biasanya percaya pada kemampuan diri sendiri, mampu mensyukuri semua yang ada pada dirinya, optimis dan tak khawatir terhadap penilaian orang terhadap dirinya.
  • Harga Diri Rendah, yaitu kita memiliki pandangan negatif atas diri sendiri. Biasanya ingin disamakan dengan orang lain, ikut-ikutan, terlalu mudah jadi follower, sering khawatir dengan penilaian/ judgement orang lain, mudah terjebak pada toxic friendship karena takut kehilangan teman.
Nah, pastinya kita maunya punya anak-anak yang memiliki self worth tinggi kan? Maka, ketahui dulu 4 faktor yang mempengaruhi self worth/ self esteem:

Reaction of Others/ Reaksi pada Anak

Akhlak ortu pada anak mempengaruhi tinggi atau rendahnya harga diri seorang anak. Kalau di dalam rumah, harga diri anak tinggi, ia tak perlu mencari pengakuan di luar rumah. Anak-anak pelaku bullying, suka kebut-kebutan di jalan, biasanya adalah anak-anak yang mencari apresiasi di luar rumah.

Semua pelaku bullying memiliki harga diri yang rendah di rumah, maka di luar ia senang merendahkan orang lain. Hal itu dilakukan agar ia merasa tinggi, atau dipandang lebih keren oleh sekitarnya.

Makin ortu menyediakan banyak waktu untuk anak, makin tinggi self worth-nya. Komunikasi itu penting, kalau orang nggak mau komunikasi ma kita, artinya kita nggak penting buat mereka. Nah, kalau anak memang penting buat kita, seberapa sering kita ajak mereka ngobrol?

Anak yang terus-menerus diabaikan oleh orangtuanya, ia akan merasa nggak penting buat ortunya. Padahal mah untuk 3B (bicara, bermain, belajar) nggak perlu 24 jam, minimal 3 jam sehari saja sudah cukup kok buat anak. Tapi ingat, 3 jam itu benar-benar fokus tanpa sambil-sambilan ya.

Jangan jadikan kebersamaan di sisa waktu. Ingat, anak kita kan bukan ampas! Hanya orangtua yang mau menyediakan waktu khusus bersama anak-anaknya, yang benar-benar sadar seberapa penting anak-anak bagi mereka. Semoga kami dan sohib parents bagian dari orangtua yang seperti ini ya.

Jika seseorang anak sering didengar pendapatnya, diajak ngobrol, dan ortu sering hadir dalam kehidupan anak, anak cenderung memiliki harga diri positif. Nah, sekarang keputusan ada di tangan kita. Bagaimana akhlak kita ke anak?
Muliakan anakmu dengan baguskan adabnya.
Sesibuk-sibuknya Rasulullah SAW, beliau selalu mengajak ngobrol anggota keluarganya sehabis isya. Padahal sesibuk apa Beliau? Apa kita jauh lebih sibuk dari Rasulullah SAW, kok sampai melingkar bersama seluruh anggota keluarga saja nggak sempat?

Comparison with Others/ Pembanding Anak

jika anak lebih dianggap inferior dibandingkan saudaranya, anak akan memiliki harga diri yang rendah. Sebaliknya, jika anak lebih dianggap superior dibandingkan saudaranya, anak jadi tinggi hati.

Jika ingin membandingkan anak, bandingkan dengan similarity dan diferensiasi, temukan persamaan-persamaan baik dan perbedaan-perbedaan buruk. Di setiap keburukan orang, ada kelebihannya. Di setiap kelebihan orang, ada keburukannya.

Daripada membandingkan anak dengan saudaranya, bandingkan anak dengan pencapaian sebelumnya. Misal, dua hari yang lalu kakak sudah bisa bangun subuh tanpa dibangunin lo, kok hari ini tidak?

Social Roles/ Peranan Sosial

Semakin anak punya peranan di dalam keluarga, semakin tinggi harga dirinya. Semakin orang punya peranan dalam sosial, semakin tinggi self worthnya. Oleh karenanya, selalu libatkan anak dalam keputusan-keputusan keluarga yang nggak prinsip, misal jika mau makan malam di luar, ajak anak berdiskusi menentukan tempat makannya.

Anak juga perlu dilibatkan dalam urusan rumah sehari-hari, siapa yang bertugas menyapu, membuang sampah, dan sebagainya.

Dalam hal ini, karakter anak pun bisa memiliki peranan yang berbeda. Kelebihan anak introvert, yaitu memiliki ketelitian yang lebih tinggi, sehingga ia mampu mengatasi permasalahan teknis.

Anak yang selalu dilibatkan dalam keluarga, akan lebih peduli dengan keluarganya. Sebaliknya anak yang tak pernah dilibatkan dalam setiap keputusan keluarga, akan cenderung menjadi orang yang cuek dan abai terhadap keluarganya.

Identification/ Identifikasi dan Label Anak

Orangtua sebaiknya tidak melabeli anak-anak dengan hal negatif. Label negatif yang berulang akan tumbuh jadi software. Labeling pada anak membangun konsep dirinya. Kalau terlalu banyak label negatif ke anak, anak akan tumbuh dengan konsep diri negatif. Begitu juga sebaliknya.
Contoh kasus yang sering terjadi, adik dan kakak berantem, bagaimana respon kita? Apakah sering keluar dari mulut kita, “Adik kok usil banget sih, ya Allah berantakan terus?

Berapa kali kita ngomong seperti itu ke anak? Dan eng ing eng, anak pun bukannya tambah baik, malah menjadi semakin usil dan berantakannya. Jleb! Kok ya pas banget nih kasusnya yang terjadi di rumah kami, hihi. Merasa tersentil dan tersindir jadinya deh.

Tidak hanya melabeli anak, melabeli diri dengan hal-hal negatif terus-terusan, lama-lama juga bisa membuat kita nggak bertumbuh. Oleh karenanya, simpan kekurangan kita dan nggak perlu disebut-sebut berulang kali, apalagi diceritakan kepada orang lain.

Abah Ihsan kemudian bercerita kalau beliau dulunya sangat pelupa. Hampir setiap ke luar kota pasti kehilangan handphone. Akhirnya perlahan-lahan agar tidak pelupa, Abah tidak lagi mengucapkan “Aku nih pelupa kok.”

Kemudian untuk melatih agar tidak pelupa, Abah mulai berdisiplin dan on system. Dompet ada di saku kiri dan HP di saku kanan. Sebelum pergi ke mana-mana, cek dulu saku kanan kiri untuk memastikan keberadaan benda-benda tersebut.

Ucapan adalah doa. Saat kita jengkel, ucapan-ucapan negatif berulang keluar dari mulut. Inilah yang harus direm. Jangan pernah ngomong negatif di depan anak. Semakin sering didengar, semakin terekam dan terinstall sebagai software.

Sebaliknya, kalau anak berbuat positif, omongin kebaikannya di depan anak! Jangan merasa hal tersebut sesuatu yang lebay. Terasa lebay karena kita belum membiasakan. Maka biar jadi biasa, jadikanlah mengapresiasi kebaikan dan pencapaian anak sebagai rutinitas.

Fokus pada hal-hal positif yang dilakukan anak dan berikan apresiasi. Sementara itu untuk hal-hal negatif yang dilakukannya, cukup diberikan teguran dan tak perlu diungkit berulangkali.

3. Self Ideal

Unsur ini meliputi pemahaman kita terhadap tujuan yang akan kita capai dalam hidup. Mau ke manakah kita, hendak ke mana kaki melangkah.
Tanpa tujuan, hidup hanya mengikuti arus, terombang-ambing ikut tren, nggak kuat akan godaan, dsb. Oleh karenanya, anak perlu diajarkan untuk shaping the goal. Yaitu menguatkan akar tujuan.

Misal nih, anak menceritakan tentang cita-cita yang dimilikinya. Jangan hanya dikomentari, “Wah keren, bunda mendukungmu, nak.” Orangtua perlu menggali alasan agar bisa menguatkan tujuan dari cita-citanya tersebut.

Kapan Konsep Diri Sebaiknya Mulai Dibentuk?

Pertanyaan penting lainnya terkait konsep diri yaitu kapan sih waktu paling tepat untuk membentuk konsep diri. Ilmuwan barat mengatakan bahwa waktu paling tepat untuk membentuk konsep diri yaitu sejak anak-anak masih bayi.

Tak jauh berbeda dengan para ilmuwan barat, Ibnu Qoyyim (murid Ibnu Taimiyah) juga mengatakan bahwa membentuk anak yang kuat ikatannya harus dilakukan sejak bayi. Oleh karenanya hindarkan balita dari suara kaget-kagetan.

Mungkin buat kita, membuat anak nangis itu hal yang membahagiakan. Namun sesungguhnya saat anak kaget, ada sel-sel syaraf otak yang putus seketika. Main petak umpet boleh, tapi jangan bikin kaget.

Terkait dengan konsep diri, ilmuwan barat telah mengatakan bahwa anak di bawah 2 tahun sebaiknya hindari screen time. Terlalu banyak terpapar layar bisa mengganggu otak. Hal tersebut akan memunculkan gangguan pemusatan perhatian dan over stimulate.

Hindarkan bayi dan balita dari pemandangan dan gerakan-gerakan negatif yang bisa mengganggu pikiran. Faktor kebisingan dan suara gaduh yang buruk bisa berakibat pada ketidakseimbangan akal. Jika menemukan kondisi gaduh, segerakan menyusui dan menenangkannya.
Makin dari bayi diberikan perhatian, makin tinggi self worth yang dimiliki seorang anak.

 

2 Kesalahan Umum tentang Konsep Diri

Selain perlu tahu tentang pengertian, unsur dan kapan waktu yang tepat untuk membentuk konsep diri, kita juga perlu tahu adanya dua kesalahan umum yang sering digaungkan tentang hal ini. Dua kesalahan tersebut yaitu;
membentuk kesadaran bukan ditunggu

Pertama, pernyataan tentang konsep diri tidak dibentuk. 

Biasanya menggunakan tameng, “Biarkan saja dia sedang mencari jati dirinya.”

Pasti banyak kan kita temui di sekeliling, ada anak yang bertumbuh menjadi sosok urakan. Lalu orangtua berkata,”Biarin, dia lagi cari jati diri.” Sesungguhnya ini hal yang kurang tepat.
Kenapa anak disuruh cari jati diri? Seharusnya itu adalah tugas orangtua untuk membentuk program jati diri anak. Di dalam agama Islam, sudah jelas bahwa tugas orangtua adalah menumbuhkan iman dan aqidah. Sejatinya itu adalah proses pembentukan konsep diri.

Kedua, pernyataan tentang menunggu kesadaran anak.

Banyak orangtua tidak membentuk kesadaran, tapi menunggu kesadaran anak untuk memahami perannya.

Sering kan denger kalimat seperti ini, “Nanti juga kalau sudah gede tahu sendiri?” Kenapa harus menunggu gede dan dibiarkan anaknya tahu sendiri, kalau sebelumnya bisa dilatih dan dibentuk terlebih dahulu.
Bukankah tugas orangtua adalah memberikan tuntunan, pendidikan dan pengasuhan? Kalau semuanya, anak disuruh tahu cari sendiri, berarti orangtua nggak melaksanakan tugasnya dong?
Membentuk kesadaran anak akan perannya harus dilakukan sebelum baligh. Sehingga ketika anak memasuki 18 tahun, dia sudah siap dilepas ke kawah candradimuka.

Part 2 dari resume Samperine tentang konsep diri anak kami cukupkan di sini. Menulis part ini seakan menjewer diri kami sendiri. Adakah yang terasa kena jeweran juga?

Insya Allah besok akan ada lanjutannya mengenai cara-cara membentuk konsep diri positif pada anak. Tungguin ya, sohib parents. Semoga bermanfaat. Wassalammualaikum.
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment