header rumah kita

Pentingnya Memberikan Apresiasi pada Anak

Konten [Tampil]

memberikan apresiasi pada anak
Assalammualaikum, sohib parents. Wah, lagi long weekend nih. Ada agenda apa nih? Jangan lupa tetap ikuti protokol kesehatan ya. Kalau kami ada rencana untuk memberikan apresiasi pada anak karena sudah jadi anak-anak keren sepekan ini.

Memangnya pekan-pekan kemarin anak-anak nggak keren? Hahaha, ya keren juga sih. Ini mah alasan bundanya mumpung long weekend, minta lihat dunia luar. Bosen lihat dinding melulu, sohib parents, hehe.

Btw, ngobrolin soal memberikan apresiasi pada anak. Kami jadi ingat saat beberapa kali ikutan kampanye KLiK yang digagas oleh Komunitas Ibu Profesional Semarang. Fyi, KLiK adalah kampanye anti bullying yang agendanya dilakukan sepekan sekali. Setiap pekannya berbeda sekolahan. Alhamdulillah sudah banyak sekolah yang bekerjasama dengan KLiK.

Sayangnya karena pandemi, mau tak mau kegiatan KLiK harus dihentikan sementara. Semoga saja di awal tahun ajaran baru nanti, KLiK bisa kembali berjalan dengan program barunya yang insya Allah akan bertajuk Kindness Project.

Ketika Kesalahan Lebih Sering Disorot

Satu hal yang kami soroti ketika menjadi bagian dari fasilitator KLiK, banyak anak yang tergagap mengenali sebuah kebaikan. Sedih banget nggak sih?

Hal-hal sederhana seperti tersenyum, memberikan salam, mengucapkan terima kasih, berkata tolong sebelum meminta bantuan kepada teman atau guru, mereka anggap itu hanya perilaku biasa. Bukanlah kebaikan yang patut diapresiasi.

Tahu nggak sih sohib parents kenapa hal seperti ini bisa terjadi? Tak lain karena anak-anak lebih sering ditegur atas kesalahannya daripada diapresiasi kebaikannya. Coba deh sekarang kita berkaca pada pengasuhan di rumah. Apakah selama ini sudah banyak memberikan apresiasi pada kebaikan-kebaikan yang dilakukan anak? Atau justru lebih banyak menegur kesalahannya?
Anak-anak yang lebih sering ditegur kesalahannya, akan tumbuh menjadi anak-anak yang takut melakukan kesalahan. Dampak buruknya, ketika anak melakukan kesalahan, bukannya berusaha memperbaiki, mereka lebih berusaha menutupi agar orangtua tidak mengetahui kesalahan tersebut. Karena takut dimarahi.
Ujungnya akan banyak hal-hal buruk yang tak diketahui orangtua dan sedikit kebaikan yang tertanam di hatinya.

Tentu saja bukan berarti menegur kesalahan anak tidak diperbolehkan. Jelas diperbolehkan. Namun dengan cara yang tepat sehingga bisa menumbuhkan rasa tanggungjawab, bukan hanya sekadar takut dimarahi.

Terlebih sebagai orangtua, kita juga harus mengimbanginya dengan mengapresiasi kebaikan-kebaikan anak. Bukan hanya saat melakukan kesalahan saja kita omeli habis-habisan, tapi saat anak melakukan hal-hal baik bibir terkunci rapat-rapat.

Manfaat Memberikan Apresiasi pada Anak

Biar semakin semangat memberikan apresiasi pada anak, yuk cari tahu apa saja sih manfaatnya?
manfaat apresiasi untuk anak

1. Membangun Konsep Diri Positif

Anak yang sering mendapatkan apresiasi dari kedua orangtuanya akan memiliki konsep diri yang positif. Mereka akan tumbuh dengan menyadari bahwa mereka berharga, dan memiliki kemampuan yang baik dalam menyikapi suatu masalah.

2. Meningkatkan Self Worth

Selain membangun konsep diri positif, apresiasi yang tepat pada anak juga bisa meningkatkan self worth. Mereka akan lebih mampu menyuarakan pendapatnya. Tidak takut melakukan kesalahan dan saat melakukan kesalahan, mereka tahu bagaimana harus bertanggungjawab dan memperbaiki/ mengatasi kondisi tersebut.

3. Meningkatkan Rasa Percaya Diri

Mendapatkan apresiasi dari orangtua juga bisa meningkatkan rasa percaya diri anak. Mereka jadi lebih terlecut untuk berprestasi dan terpacu untuk melakukan hal-hal baik lainnya.

Cara Memberikan Apresiasi pada Anak

Tentu saja memberikan apresiasi harus dilakukan dengan tepat. Tidak bisa juga kita asal memberikan pujian hingga anak besar kepala. Oleh karenanya banyak ahli berpendapat bahwa pujian yang tepat sasaran adalah saat orangtua menyebutkan kebaikan anak dengan spesifik.

Contoh:

Saat anak berinisiatif untuk membuang sampah ke tempatnya. Sebaiknya tidak memberikan pujian global semacam ini, “Wah alhamdulillah anak bunda rajin.” Namun lebih baik jika disebutkan juga kebaikannya apa, misalnya, “Alhamdulillah anak rajin. Tahu harus membuang sampah di tempatnya.”

Kata rajin itu terlalu luas, sehingga anak-anak terutama yang masih di bawah usia 7 tahun akan kesusahan mengartikan rajin itu yang seperti apa. Namun jika kita langsung memberikan apresiasi pada aktivitasnya secara tepat, anak-anak jadi bisa paham bahwa membuang sampah di tempatnya masuk dalam perilaku rajin dan baik.

Menegur kesalahan anak pun sebenarnya bisa menjadi sarana mengapresiasi atau mengajarkan kebaikan pada anak.

Misal ada sebuah kondisi di mana anak menumpahkan susunya ke lantai. Biasanya reflek orangtua ketika hal ini terjadi pasti akan langsung mengomel, “Kamu tu lo kalau jalan nggak hati-hati. Bawa gitu aja kok tumpah, bla bla bla.”

Atau kalaupun nggak ngomel, biasanya langsung berkomentar panjang kali lebar kali tinggi karena lantainya basah lah, lengket lah dan sebagainya.
cara memberikan apresiasi pada anak
Padahal kalau kita mau menarik nafas panjang barang sebentar, lalu memberikan jeda untuk tidak langsung merespon hal tersebut. Kita bisa mengubah omelan menjadi nasehat yang lebih didengarkan. Daripada mengomel, bikin bibir dan hati capek, mending kita switch omelan tersebut seperti ini;

“Waduh, susunya tumpah nih. Lantainya jadi lengket nih dik? Gimana ya biar lantainya nggak lengket?”

Ajak anak untuk berinisiatif dan bertanggungjawab atas kesalahan yang dilakukannya. Kalau ia masih belum berhasil mencari solusi, kita bisa membantu memberikan clue tertentu.

“Hmm, ada lap/ tisu di sana tuh, dik.”

Ahaa, anak pun segera tahu apa yang harus dilakukannya. Setelah ia selesai membersihkan lantai kotor, bisa tuh dilanjutkan sounding. “Makasih ya dik, sudah membersihkan lantainya. Besok lagi hati-hati kalau bawa gelas berisi susu ya.”

Diharapkan dengan membiasakan hal-hal sederhana seperti ini anak bisa lebih fokus pada solusi saat terjadi sebuah masalah. Bukan malah lari dari tanggungjawab, sengaja menutupinya atau malah melempar kesalahan ke orang lain. Menjadi orang yang solutip kalau kata Bu Tedjo, hehe.

Sejujurnya tulisan ini dibuat untuk menjadi pengingat diri kami sebagai orangtua dari duo Ifaffan agar tidak banyak mengkritisi kesalahan anak tanpa membangun kesadaran bertanggungjawab. Karena sesungguhnya memberikan apresiasi pada anak bisa menghangatkan jiwa-jiwa mereka. Semoga bermanfaat, sohib parents.
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment