header rumah kita

Melatih Kemandirian Anak; Manfaat dan Caranya

Konten [Tampil]
melatih kemandirian anak
Assalammualaikum, Sohib Parents. Beruntung pada hari Minggu, 27 Juni 2021, kami bisa mengikuti kelas Samperine (Seminar Parenting Online) bersama Abah Ihsan Baihaqi dengan tema melatih kemandirian anak.

Terdengar sederhana dan mudah ya? Namun sayangnya dalam prakteknya, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada banyak tantangan dan PR yang harus kita hadapi.

Apakah kita akan berhenti dan melambaikan bendera putih? Atau terus berupaya sekuat tenaga untuk membekali anak-anak life skill agar perlahan bisa tumbuh menjadi manusia yang mandiri?

Kesalahpahaman tentang Kemandirian

Ngobrolin soal kemandirian, nggak sedikit banyak kesalahpahaman terkait hal ini. Adapun hal-hal yang sering disalahpahami yaitu;
persepsi salah tentang kemandirian

1. Mandiri Boleh, Tapi Juga Perlu Menempatkan Rasa Butuh

Pernah lihat anak yang secara ekonomi sudah mandiri, bisa bayar kuliah sendiri, tapi tidak peduli dengan keluarganya? Rumah hanya semacam transit, pergi pagi pulang malam. Tidak pernah mau tahu masalah apa saja yang ada di rumah. Bahkan kamar acak-acakan, dan tak bisa bertanggungjawab dengan kebersihan kamar sendiri.

Kemandirian anak seharusnya membentuknya sebagai pribadi yang utuh. Maksudnya, jika ia sudah mandiri secara finansial, maka seharusnya dari sisi spiritual, kedewasaan, tanggungjawab juga sudah mandiri. Namun jika kemandiriannya terbentuk hanya pada satu bidang, patut dipertanyakan bagaiman proses pembentukannya di masa anak-anak.

Oleh karenanya sebelum terlambat, kita harus melatih kemandirian anak, tapi juga tetap mengajarkan anak kebutuhan terhadap keluarga. Hal tersebut agar anak bisa memiliki rasa tanggungjawab dan welas kasih terhadap keluarganya.

2. Memandirikan Anak, Bukan Berarti Mengabaikan Perasaan Anak

Memandirikan anak bukan berarti tidak boleh mengusap air matanya saat ia mengadu kepada kita karena baru saja terjatuh. Menerima perasaan sedihnya adalah tanda bahwa kita peduli terhadap perasaan anak.

Jangan menyalahartikan bahwa anak yang mandiri bukanlah anak yang cengeng. Kalau jatuh lalu berdiri sendiri. Anak-anak yang perasaannya sering diabaikan di masa kecil, justru bisa tumbuh menjadi anak-anak yang haus perhatian di masa dewasanya.

3. Garing pada Anak

Dengan alasan memandirikan anak, lalu menolak untuk memberikan pelukan. Berdalih takut anak jadi manja. Akhirnya hubungan batiniah antara orang tua dan anak malah tak terbentuk dengan baik.

Menurut Abah Ihsan, sesekali memanjakan anak boleh, yang tidak boleh kalau hanya sesekali memandirikan anak. Maksudnya yaitu, melatih anak mandiri tetap bisa berjalan, meski sekali-kali kita menyuapinya makan. Memanjakan anak sesekali adalah bentuk cinta. Sekali-kali disuapin boleh, tapi kalau setiap hari disuapi itulah yang tidak boleh.

Sedangkan yang dimaksud dengan ‘hanya sesekali memandirikan anak’ adalah tidak konsisten melatih kemandirian. Hari ini aturan dijalankan, besok tidak. Inkonsistensi dari orangtua akan menyebabkan anak bingung dan kemandirian tidak lekas terbentuk dengan baik.

Nah, setelah meluruskan beberapa kesalahpahaman terkait kemandirian anak, sudah siap untuk mengetahui manfaat dan cara melatih kemandirian?

Manfaat Melatih Kemandirian Anak

Kenapa sih kita perlu melatih kemandirian anak, tentu ada banyak alasannya. Mau tahu?
manfaat anak mandiri

1. Agar Anak Punya Kontrol pada Dirinya Sendiri

Pernah melihat anak yang ambil jurusan saat SMA atau kuliah hanya karena ikut-ikutan temannya? Atau ikut-ikutan ngefans artis tertentu karena circle-nya suka dengan artis tersebut atau mengikuti trend.

Anak-anak yang seperti ini termasuk yang belum mandiri, karena belum memiliki kontrol atas dirinya sendiri. Padahal seorang anak akan lebih berenergi saat ia mampu mengambil keputusan sendiri. Oleh karenanya, sebagai orang tua kita harus membantu anak-anak untuk menajamkan tujuan.

2. Agar Anak Punya Self Reliance (Kepercayaan Diri) & Self Efficacy (I can do it) dan Akhirnya “Can Contribute to The World”

Sebagian dari orangtua tidak sadar seringkali melemahkan kemampuan anak. Hingga akhirnya akan tumbuh ketidakpercayaan pada diri anak, merasa ia tidak mampu melakukan segala hal. Karena terlalu sering dibatasi oleh ortunya, karena terlalu sering dilarang dan dibantu.

Contoh: anak-anak suka kepo ingin tahu ini dan itu, lalu merusakkan barang. Kita bukannya mengapresiasi, malah memarahi.

Atau anak sedang ingin belajar memakai tali sepatu atau baju sendiri, akhirnya jadi lebih lama. Kitanya nggak sabar, ujung-ujungnya memakaikan sepatu tersebut. Padahal yang perlu kita lakukan hanyalah, berikan waktu, kesempatan dan kebebasan pada anak untuk bereksplorasi. Asalkan tidak berbahaya, tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Yang dilarang jatuhnya, bukan memanjat tangganya.
Buat anak tiga tahun, bisa naik ke tangga tinggi itu sebuah prestasi. Jangan dilarang, cukup diawasi dan diapresiasi, agar konsep diri anak tumbuh secara positif.

Kalau kita sedang terburu-buru, tapi anaknya minta pakai baju sendiri gimana? Ya, pakaikan saja, sambil bilang kepada si anak “Maaf ya, hari ini kita perlu cepat, jadi bunda bantu dulu ya. Besok saat kita sedang santai dan nggak ada acara ke mana-mana, adek boleh belajar pakai baju/ sepatu sendiri.
Biarkan anak melewati/ melakukan hal yang paling membuatnya takut, agar kepercayaan dirinya tumbuh.

 

3. Agar Jadi Generasi Peduli (Responsibility Generation)

Apa hubungannya mandiri dan kepedulian?

Saat anak-anak dilatih melakukan pekerjaan rumah, ia secara langsung diajarkan tentang disiplin waktu dan bertanggungjawab.

Contoh di rumah Abah, saat anak tidak mencuci piring, artinya si anak tidak boleh mendapat snack.

Jika telat bangun pagi dan olahraga, maka anak-anak tidak boleh sekolah. Bukannya anak-anak senang kalau tidak sekolah? Ooh, tentu tidak.

Karena di rumah Abah, tidak boleh sekolah sama dengan tidak mengerjakan tugas. Maka, hak-haknya akan dicabut, tidak boleh keluar kamar dan bermain seharian.

Karena ada aturan yang jelas seperti itu, akhirnya anak-anak belajar mengelola waktu dengan baik. Hal itu agaar aktivitasnya berjalan sesuai dengan jam-jamnya. Anak-anak juga belajar sabar, konsentrasi, dan peduli pada orang lain saat dilatih melakukan pekerjaan rumah.

Ketika ada saudaranya yang tidak melakukan tugas hariannya, saling mengingatkan agar tidak saling membebani atau menambah pekerjaan orang lain. Karena mereka tahu mengerjakan pekerjaan tersebut sangat berat dan melelahkan.

Kenapa sebagian besar ibu-ibu suka ngomel? Karena ibu biasanya bertanggungjawab terhadap kerapian dan kebersihan rumah, capek tahu bersihin rumah.

Sebagian laki-laki lebih detil soal keuangan, karena ingin memastikan uangnya digunakan dengan baik. Karena suami tahu cari uangnya susah.

Ketika seseorang tahu bagaimana melelahkannya suatu pekerjaan, ia akan lebih peduli dengan keadaan di sekitarnya, saling membantu, mendukung dan mengingatkan agar tidak terjadi chaos di rumah/ di sekitarnya. Kalau mandiri, tapi rumah acak-acakan, berarti mandirinya belum komprehensif.
Anak perlu mandiri yang peduli agar tidak tumbuh menjadi toxic generation.
Jika suatu hari anak mau membuka usaha, bagaimana? Ya disiapkan dulu. Bukan langsung dimodali besar, padahal nggak punya skill dan ilmu memadai tentang membangun bisnis.
Jangan pernah memandirikan anak dengan dilepas begitu saja, harus dipersiapkan! Ajarkan anak tentang konsekuensi.
Misal, anak nggak mau kuliah, mintanya kerja atau membuat usaha. Kalau gitu tantang sekalian si anak, kalau kamu mau buat usaha, berarti silakan buktikan diri kalau kamu mampu. Silakan keluar dari rumah dan buktikan kamu bisa survive, tidak lagi menggunakan fasilitas dari orangtua. Kalau berhasil, ortu akan berikan investasi usaha dengan syarat dan ketentuan berlaku.
manfaat kemandirian anak

4. Mempersiapkan Anak Berpisah dengan Orang Tua

Tidak ada kebersamaan yang abadi. Anak-anak pada saatnya nanti juga akan berpisah dengan kedua orang tuanya. Entah karena pendidikan, menikah atau meninggal.
 
Kita tidak akan selamanya berada di dekat anak, mereka harus tahu hal tersebut. Oleh karenanya kita perlu mempersiapkan anak agar dapat berdiri di atas kakinya sendiri. Karena belum tentu ada orang di dunia ini yang bisa memberikan bantuan setulus kedua orangtuanya.

5. Agar Anak Survive/ Bertahan dalam Kehidupan

Survive bukan hanya di bidang finansial, tapi juga survive ibadahnya, survive kebaikannya.

Saat orangtua sudah tiada, apakah anak akan tetap menjaga sholat, tetap bertanggungjawab, tetap menyembah Allah? Ini adalah PR yang utama.
 
Abah menceritakan bagaimana beliau ngobrol dengan putri pertamanya yang akan mulai berkuliah;
“Konsekuensi abah menguliahkan kamu adalah berikan kontribusi kebaikan kepada dunia. Abah tidak perlu bayaran, tidak perlu diganti dengan banyak harta, tapi bayarlah dengan cara menjadi orang yang baik, orang yang berkontribusi."
Menarik ya, sohib parents? Ada banyak sekali insight yang diberikan Abah Ihsan lewat materinya kali ini. Setuju nggak?

Bagaimana Melatih Anak Mandiri?

Setelah kita tahu alasan mengapa sih perlu melatih kemandirian anak, kini saatnya kita belajar cara melatih kemandirian anak. Ada enam hal yang harus benar-benar diperhatikan oleh kedua orangtua terkait memandirikan anak:
cara melatih kemandirian anak

1. Berikan Mereka Penjelasan Identitas Diri dan Batasan Pengasuhan

Seperti sudah dijelaskan pada materi Konsep Diri, anak-anak harus sudah paham siapakah dirinya dan apa tanggungjawabnya. Orangtua hadir bukan untuk memenuhi segala keinginan anak.

Anak dihadirkan di tengah-tengah keluarga dengan memiliki peran khusus. Orangtua memiliki peran untuk mengasuh anak agar tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat. Orangtua bisa mengurus anak, jika anaknya bisa diurus.

Ciri anak yang bisa diurus adalah anak yang mau ikut terlibat di dalam keluarga dan tahu hak serta kewajibannya. Bukan hanya menuntut kewajiban orangtua.

Anak juga perlu batasan-batasan di rumah;
  • batasan dengan orangtua (anak perlu tahu sampai kapan orangtua mengurus anak, orangtua bisa menyuruh tapi anak hanya boleh minta tolong),
  • batasan dengan saudara (harus saling sayang dan hormat, tidak boleh nyuruh saudara hanya boleh minta tolong, tidak boleh mengambil barang saudara harus minta izin),
  • batasan dengan teman/ orang lain (boleh nggak kalau teman pinjam barang tanpa izin, boleh nggak masuk kamar teman tanpa izin dari orangtuanya, dsb).

2. Berikan Mereka Tantangan

Umumnya manusia akan merasakan nikmat dan menghargai sesuatu jika mendapatkan sesuatu itu dengan tidak mudah. Semakin banyak kenikmatan anak-anak kita rasakan tanpa adanya usaha, maka banyak anak-anak yang menyepelekan kenikmatan tersebut.

Tugas kita sebagai orangtua adalah untuk memberikan tantangan, agar anak bisa mensyukuri kenikmatan tersebut.
Hadiah terbaik yang bisa orangtua berikan kepada anaknya adalah memberikan tantangan. Biarkan anak mengalami kesalahan dan belajar untuk bangkit lagi. Agar anak tahu artinya kerja keras.
Berikan anak tugas harian agar mereka bisa merasakan lelah dan capek. Jika anak punya keinginan, biarkan anak mendapatkannya dengan usaha. Tugas harian ini bisa disesuaikan dengan tingkatan usia mereka ya, sohib parents.

3. Berikan Pemahaman Terhadap Konsekuensi

Konsekuensi tergantung pada jenis kemandirian. Jenis-jenis kemandirian antara lain kemandirian belajar, kemandirian finansial/ pemenuhan kebutuhan, kemandirian ibadah, kemandirian menentukan pilihan, kemandirian pertemanan, kemandirian tugas dan tanggung jawab, dsb.

  • Contoh Konsekuensi untuk Melatih Kemandirian belajar:

Awalnya anak ditemani dan banyak diajak diskusi tentang pentingnya belajar. Saat SMP dan SMA, seharusnya kemandirian belajar sudah terbentuk. Sudah punya kesadaran tentang belajar. Kalau masih belum mandiri dan masih harus diingatkan, maka berikan konsekuensi.

Nilai sekolah harus minimal tuntas KKM, kalau di bawah KKM/ tidak tuntas, maka konsekuensinya hak-hak anak dicabut.

  • Contoh Konsekuensi untuk Melatih Kemandirian Menentukan Pilihan:

Suatu hari si anak pengen les gitar. Kita izinkan, dengan syarat jika si anak berhenti di tengah jalan, anak harus mengembalikan uang les tersebut.

Ajarkan anak konsekuensi atas sebuah keputusan, pilihan dan tindakan yang diambil anak. Bukan hitung-hitungan pada anak, tapi melatih anak agar bertanggungjawab pada keputusan dan pilihan hidupnya.
melatih life skill pada anak

4. Latih Anak Melakukan Chores/ Tugas Harian

Zaman ini tak jarang orangtua kesulitan meminta anak remaja berkontribusi dengan keluarga. Bahkan tak sedikit orangtua yang hanya jadi “pekerja” untuk anaknya. Orangtua masih mencucikan baju anaknya, piringnya, dan anak cuek tak peduli apakah ibunya sedang capek. Tak punya inisiatif untuk membantu.

Sebagian orangtua lain berpikir bahwa tugas anak hanya belajar. Sebagian lain berpikir memberikan tugas harian kepada anak hanya akan membebani anak. Padahal dengan membiasakan anak melakukan tugas harian ada banyak sekali manfaatnya.

Nah, dengan memahami manfaat tersebut, kita akan berpikir ulang dengan pikiran-pikiran lama. Apa saja manfaatnya?
  • Anak yang dibiasakan mengerjakan chores/ tugas rumah harian, maka anak secara nggak langsung belajar time management, menjauhkan anak dari kekacauan. Gara-gara anak tak biasa rapi, hidupnya nanti akan kacau.
  • Kebiasaan menunda-nunda yang bisa merugikan anak di kemudian hari. Dengan mengajarkan chores dan konsekuensinya, anak-anak belajar bahwa kebiasaan menunda merugikan dirinya sendiri.
  • Mengajarkan anak respect terhadap hak diri sendiri dan orang lain. Misal, anak hanya bisa sekolah setelah kamarnya rapi. Maka dia akan bertanggungjawab dengan tugasnya tersebut.
  • Melatih anak kerjasama dan menghormati batasan dengan orang lain.
  • Menjaga lingkungan tetap bersih.
  • Muncul tanggungjawab dan empati.
  • Menumbuhkan rasa penting karena anak bisa melakukan tugas.
Kemampuan cebok untuk anak usia 6 tahun jauh lebih penting dari kemampuan membaca. Karena anak usia 7 tahun, alat kelaminnya sudah tidak boleh disentuh oleh orang lain. Begitu juga soal tidur terpisah, anak-anak sudah harus tidur sendiri sebelum usia 10 tahun.

5. Berikan Mereka Keterampilan Baru Terus-Menerus

Setelah anak-anak bisa menguasai satu bidang, ajarkan mereka hal lain agar mereka punya bekal yang lebih banyak di dalam hidup. Misal, selama sepekan anak sudah belajar menyapu, maka pekan berikutnya anak belajar mengepel.
Semakin banyak hal yang dikuasai anak, kepercayaan diri anak akan semakin meningkat.

cara mengajarkan lifeskill
contoh life skill untuk anak

6. Latih Anak untuk Problem Solving

Ajak anak diskusi untuk memikirkan solusi atas masalah yang dihadapinya. Biarkan anak berpikir dan mencari solusi, sebelum meminta tolong.

Abah lalu menunjukkan video bagaimana beliau mengajak anak kelimanya untuk mencari solusi saat si anak mau mengambil buku di tempat yang agak tinggi. Abah tidak langsung membantunya, tapi mengarahkannya menemukan solusi atas kesulitannya. Akhirnya si anak bisa menemukan solusi untuk masalahnya, yaitu mengambil buku menggunakan tangga.

Menutup Samperine pada siang hari itu, Abah Ihsan mengajak para peserta untuk mengucapkan janji secara bersama-sama. Yuk, sohib parents juga ikutan. Dari rumah masing-masing, silakan baca kalimat ini dengan baik-baik dan mari kita lakukan dengan sepenuh hati;
Kalau anak saya ada masalah, ada kesulitan, saya berjanji tidak buru-buru membantunya, tapi mengajaknya berpikir untuk mencari solusinya.
Demikianlah materi Samperine tentang melatih kemandirian anak. Semoga bermanfaat dan happy parenting! Wassalammualaikum.
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment