Halo Balita; Teman Setia Sepanjang Usia



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh. 

Memasuki hari ketujuh bertepatan dengan aku dan ayahnya anak-anak mengetahui kalau ada gigi depan mbak Ifa yang tumbuh. Masalahnya gigi itu tumbuh sebelum gigi susunya tanggal sempurna, jadilah giginya saling tumpuk-menumpuk. Karena kami nggak mau kondisi itu mengganggu ke depannya, kami memutuskan untuk mengajak mbak Ifa ke dokter gigi. 

Sebenarnya ini bukan pertama kali mbak Ifa ke dokter gigi, kalau dihitung-hitung sudah mau tiga kali ini mbak Ifa bertemu dokter gigi. Namun tetap saja setiap kali diajak ke dokter gigi, pasti mbak Ifa sudah bergidik ngeri duluan. Padahal dia juga tidak punya pengalaman buruk dengan dokter gigi lo. Dua kali ke dokter gigi sebelumnya, dokternya baik dan ramah. Kami pun tak pernah menceritakan hal-hal buruk tentang dokter gigi, tapi entah kenapa setiap kali mendengar mau diajak ke dokter gigi, mbak Ifa sudah mikir yang aneh-aneh. Mungkin karena ngobrol sama teman-temannya kali ya… 



Untuk mempersiapkan mental mbak Ifa, sebelum menemui dokter gigi, aku kembali membacakan Halo Balita seri Aku Berani ke Dokter. Buku ini selalu jadi mantra penguat setiap aku mau mengajak mbak Ifa ke dokter. Untuk mengingatkannya bahwa tak masalah pergi ke dokter, entah itu dokter anak ataupun dokter gigi. Bahwa ada saatnya mbak Ifa memang harus meminta tolong ke dokter untuk mengecek kesehatannya. Sekaligus menguatkannya bahwa dokter itu baik dan akan membantu mbak Ifa dengan ramah dan sepenuh hati. 

Nah, kebetulan cerita di buku ini juga tentang Shaliha yang awalnya takut ke dokter gigi, namun akhirnya berani dan tidak takut lagi bertemu dokter gigi karena dokternya ramah dan tidak ada rasa sakit saat penanganannya. Alhamdulillah setelah aku kembali menceritakan buku ini ke mbak Ifa, dia mau diajak ke dokter gigi. Malah dia nggak sabar untuk segera ke dokter gigi. 



Aku Berani ke Dokter hanyalah salah satu seri dari Halo Balita. Aku berhasil membeli buku paketan ini setelah memberanikan diri ikut arisan. Kalau nggak salah ini buku paketan kedua yang aku belikan untuk mbak Ifa setelah Cakrawala Pendidikan Dasar (CPD). Bisa dibilang aku cukup telat menghadirkan Halo Balita untuk mbak Ifa. Saat yang lain sudah punya buku ini di saat anaknya masih di kandungan atau baby, aku baru membelinya saat mbak Ifa sudah berumur tiga tahun. 

Namun aku bersyukur bisa memiliki buku ini meski harus mengurangi jatah belanja, hehe. Buku yang berjenis board book ini sangat awet dan mudah dibersihkan. Benar-benar cocok untuk balita. Selain itu gambarnya yang besar dengan kalimat yang tak terlalu panjang sangat memudahkan anak-anak memahami ceritanya. Sekarang mbak Ifa sudah jarang meminta dibacakan rangkaian seri dari Halo Balita, namun giliran Affan yang mulai aku stimulasi dengan buku ini. 

Alhamdulillah karena tantangan 10 hari dari game level 5 ini, aku kembali rajin membacakan buku untuk anak-anakku. Affan pun mulai memperlihatkan ketertarikannya dengan buku. Apalagi melihat mbak Ifa sering bawa buku ke sana ke mari, jadilah Affan ikut-ikutan. Sekarang Affan mulai suka ambil buku, lalu disodorkannya kepadaku sambil bergumam seolah-olah minta dibacakan. 



Satu hal yang aku suka dari Halo Balita ini, bukunya sangat asyik untuk para orangtua mengeksplorasi kemampuannnya mendongeng. Dilengkapi dengan buku panduan, tiga boneka tangan tokoh dari Halo Balita; Sali, Shaliha dan Kumi, juga kotak buku yang bisa diubah jadi panggung cerita. Sayangnya panggung cerita punya kami sudah hancur tak berbentuk, hehe. Halo Balita sendiri memiliki 25 seri yang komplit mengajarkan balita tentang keberanian, kemandirian, rasa sayang kepada keluarga, hewan dan menumbuhkembangkan fitrah keimanan. Ada yang punya Halo Balita juga di rumahnya? 

Kalau mbak Ifa dan Affan asyik bercengkrama dengan Halo Balita, di hari ketujuh ini aku masih berkutat dengan buku Bahagia Berkisah. Satu hal yang menggelitik dari buku ini yaitu mengingatkanku untuk memperbaiki niatku ketika membacakan buku atau berkisah untuk anak-anak. Di buku tersebut mbak Hikmah Yulitasari menyampaikan bahwa niatkan membaca lillahita’ala. Tentu saja baik ketika kita membacakan buku atau berkisah untuk anak dengan niatan agar kosa kata anak bertambah, agar anak menjadi cerdas, agar anak bisa senang membaca dan niatan-niatan sejenis. 

Namun akan lebih baik ketika niat kita hanya untuk Allah, dengan begitu kita akan mendapatkan lebih dari sekedar anak yang cerdas, anak yang kosa katanya banyak, namun insya Allah kisah yang kita bacakan akan jauh lebih berkah dan bisa meningkatkan fitrah keimanan anak-anak. Buku ini mengingatkanku bahwa semua amal tergantung pada niatnya. Jika kita membaca buku hanya sekedar agar anak senang membaca, maka hanya sampai situlah kita mendapatkan hasilnya. Namun ketika niat kita membaca buku untuk anak lillahi ta’ala, insya Allah hati anak-anak akan tergerak tidak sekedar untuk menyenangi kegiatan membaca, namun juga bisa menerima hikmah dari cerita-cerita yang kita bacakan. Hmm, jadi semakin penasaran dengan buku ini deh. Kalau parents sedang baca buku apa sekarang? 

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh. 



#Day7 
#GameLevel5 
#Tantangan10Hari 
#KuliahBunsayIIP 
#ForThingsToChangeIMustChangeFirst
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email