Chocolate Cupcake Mengajarkan Proses dan Rasa Syukur

1 comment



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Mumpung laptop udah bener dan Affan belum bangun, langsung geber ke hari ketujuh deh. Salah satu agenda di Fun Holiday Project adalah cooking project. Berhubung salah satu cita-cita mbak Ifa adalah menjadi chef dan punya toko kue, maka aku menyarankan materi untuk cooking project kami adalah membuat cupcake kukus. Kenapa kukus? Biar lebih sehat, hehe. Padahal alasan sebenarnya karena bundanya nggak suka baking. Alat baking-nya pun sudah dihibahkan ke orang lain.

Di antara semua aktivitas di proyek keluarga, acara masak-memasak ini yang paling ditunggu mbak Ifa. Setiap hari pasti tanya kapan sih masaknya bun. Sementara buat aku, pengennya mbak Ifa lupa ma jadwal ini, wkwk. Bener-bener tantangan deh membersamai anak urusan perkuean, karena dasarnya nggak passion di sini.

Akhirnya setelah mundur dua hari dari jadwalnya, aku akhirnya siap juga ngajakin mbak Ifa bertempur di dapur. Sebelumnya aku sudah mencari resep yang mudah dan nggak perlu mixer, pokoknya yang nggak ribet deh. Aku mengajak mbak Ifa untuk melihat resep dan mencari apa ada yang perlu dibeli. Alhamdulillah semua bahan sudah ada, cuma kertas roti saja yang belum punya. Jadilah sebelumnya kami membeli terlebih dulu.

Kami sudah menyepakati akan memasak setelah magrib. Berikut ini bahan-bahan yang dibutuhkan sesuai resep yang aku dapat dari cookpad, namun ada beberapa yang aku ubah sesuai barang yang ada di rumah.


·        100 gram terigu --- aku naikkan jadi 125 gram
·        75 gram gula pasir
·        5 gram cokelat bubuk – aku ganti dengan milo dua sachet
·        5 gram cokelat bubuk hitam --- aku ganti coklat yang dilelehkan
·        10 gram susu bubuk --- aku skip, nggak pakai ini
·        1 butir telur ayam
·        1/4 sdt soda kue bubuk
·        1/8 sdt garam
·        75 gram minyak
·        100 gram susu cair/UHT

Hal pertama yang dipelajari mbak Ifa tentu saja nama bahan-bahan yang dibutuhkan dan ukuran yang pas biar kuenya bisa berhasil. Setelah itu, hal kedua adalah menjalani proses demi proses pembuatannya. Dari yang hati-hati mecah telur, nuangin gula, nuangin terigu dan mengaduk sampai tercampur semua.



Ifa sangat fun sih, malah bundanya yang belum bisa nahan diri untuk nggak cerewet, haduh, tumpah, hati-hati dong nuangnya dan sebagainya. Alhamdulillah tahapan demi tahapan telah dilalui, mbak Ifa hanya merasa kesusahan ketika adonan semakin berat diuleni.
\
Momen paling bikin excited ketika memasukkan adonan ke kertas roti. Di sini kami belajar bahwa mengisi adonannya nggak perlu sampai penuh, karena nanti pasti mengembang. Kalau kepenuhan jadi luber ke mana-mana deh. Selain itu kami juga jadi belajar kalau mau kasih topping, diletakkannya setelah kuenya jadi biar nggak ikut meleleh, wkwk. Bundanya payah deh ah soal beginian lupa.

sebelum dikukus cantik ya?

Taraaa.. jadi juga lo proyek memasak cupcake kukus pertama kami. Yaa, meski penampakan jadinya nggak secantik sebelum dikukus, tapi rasanya Alhamdulillah masih enak dinikmati kok. Waktu aku pamerin ke ayahnya, si ayah underestimate dengan bentuknya. Namun setelah nyobain,
eh, enak ternyata.

setelah dikukus, kaya monster kata Ifa.. hehe




Beberapa hari kemudian, mbak Ifa ngajak bikin kue lagi. Aku iyain karena penasaran pengen bikin yang lebih enak dan penampakannya nggak malu-maluin. Kali ini milo dua sachet aku ganti dengan chocolatos dua sachet, dan telurnya jadi dua butir. Untuk toppingnya kami nggak pakai cha cha lagi, tapi pakai pisang yang diiris tipis-tipis.


Proyek Memasak Kedua
Belajar dari pengalaman pertama, kami mengisi adonan di kertas roti hanya setengahnya saja, jadi nggak luber ke luar. Hasilnya? Alhamdulillah, lebih cantik dan lebih endesss. Terbukti nggak ada beberapa jam udah tandas, padahal hasil jadinya lebih banyak lo. Kayanya resep cupcake coklat kukus ini bakal jadi resep andalan keluarga nih.

Dari cooking project ini, aku dan mbak Ifa belajar untuk menghargai proses. Untuk mendapat hasil yang baik, kami mau nggak mau harus ikhlas menjalani prosesnya, dan harus memberikan usaha yang terbaik dan semaksimal mungkin. Mbak Ifa juga jadi tahu kalau untuk menghasilkan sebuah kue atau masakan, ternyata butuh proses yang nggak sebentar, jadi nggak boleh buang-buang makanan. Mbak Ifa belajar pula arti bersyukur karena nggak semua anak punya kesempatan yang sama seperti mbak Ifa; bisa masak bareng sama bundanya, bisa makan kue. Semoga saja hal ini menancap di hatinya hingga dewasa dan bermanfaat untuk kehidupannya di masa yang akan datang. Aamiin.



Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.


#tantangan_hari_ketujuh
#game_level_3
#kelasbunsayIIP3
#kita_bisa 
#melejitkankecerdasan
#bundasayang
#familyproject


Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

1 comment

  1. Wah, senangnya ya mbak ifa bisa menjalani passionnya. Ibunya juga pinter ih improvisasi resep. Sip deh��

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email