Fun Holiday; First Family Project



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Mulai game level 3 Bunda Sayang, aku akan mendokumentasikan semua kegiatan Institut Ibu Profesional lebih banyak di blog ini. Setelah melewati tantangan demi tantangan di game level 1 dan 2 yang catatannya bisa disimak di Marita's Palace, game level 3 hadir dengan tantangan yang semakin asyik dan memacu kreativitasku baik sebagai individu ataupun sebagai seorang ibu.

Kali ini para peserta Bunda Sayang batch #3 ditantang untuk merancang sebuah family project bersama salah satu anggota keluarga lainnya. Berkaitan dengan tema level 3 tentang melejitkan kecerdasan, tujuan dari proyek keluarga ini nantinya tentu untuk mengembangkan kecerdasan tiap anggota keluarga. 

Membaca materi dan tantangan yang diberikan aku merasa seperti menemukan jodohku. Qodarullah pertengahan Desember lalu aku mengikuti workshop tentang portofolio anak yang disampaikan oleh Ustad Harry Santosa, sejak saat itu aku mulai tertarik untuk membuat proyek-proyek bersama dengan anak-anakku demi bisa membersamai mereka menemukan potensi dirinya. Alasan itu pula yang kemudian melahirkan blog ini. Tentu saja selain untuk menghemat waktu. Sebelumnya aku memiliki dua blog khusus untuk masing-masing anak, namun ternyata aku tidak punya cukup waktu untuk bisa konsisten mencatat perkembangan mereka. Satu blog khusus untuk mencatat portofolio anak seperti ini jauh lebih menghemat waktu dan tenaga.

Tidak lama setelah mengikuti workshop Ustad Harry, mbak Ifa mulai libur sekolah. Menyadari bahwa mbak Ifa adalah anak yang sangat aktif dan selalu haus kegiatan, di hari pertama liburannya aku mengajaknya untuk merencanakan beberapa aktivitas yang bisa kami kerjakan bersama selama liburan. Awalnya aku ingin membagi kisah ini sejak hari pertama liburan, namun ada musibah yang menghentak jiwaku hingga mood menulisku runtuh seketika. Laptop tiba-tiba tidak bisa diajak kerja sama, keyboard laptop mendadak error, keyboard external pun menyusul hilang kemampuannya. Lebay banget ya. Tapi itulah yang terjadi. Termasuk keterlambatan posting tantangan hari pertama ini juga karena laptop yang kembali ngadat. Hampir sudah mau kembali tertidur ketika suami bilang akan membawa laptopku ke kantor agar dicek teman-teman teknisinya, namun tiba-tiba segelas kopi dibawanya ke kamar. "Eits, jangan tidur... katanya mau nulis."

Baiklaaaaah. Mari usir cantik mood yang drop hingga ke level dasar dan aku akan mulai mencatat remahan-remahan cerita proyek bersama mbak Ifa. Proyek ini sudah berjalan dan akan berakhir hari Sabtu yang akan datang. Hari minggu nanti kami akan mengadakan raker dan mengevaluasi beberapa hal yang menjadi kendala. Evaluasi itu nantinya akan diperlukan untuk membuat proyek berikutnya.

The Beginning of The First Family Project


Sebut saja proyek ini sebagai FUN HOLIDAY PROJECT. Kenapa kami sebut begitu? Karena aku ingin liburan kak Ifa kali ini berkesan. Berbeda dengan teman-teman lainnya yang sebelum liburan sudah tahu akan diajak berkunjung ke rumah eyang atau nenek kakek mereka, kondisi keuangan kami belum memungkinkan untuk mengajak Ifa berkunjung ke rumah oma di Singapore. Sementara saat Ifa libur, ayahnya justru sedang sangat hectic dengan pekerjaannya di kantor, bahkan beberapa kali harus lembur. Mau tak mau aku harus memfasilitasinya dengan berbagai kegiatan menarik agar ia tak merasa bosan di rumah. Apalagi teman-teman di rumah juga banyak yang sedang mudik karena liburan yang cukup panjang.

Saat aku memberitahu mbak Ifa bahwa kami akan melakukan beberapa kegiatan bersama, dia sangat excited. Sabtu, 23 Desember 2017 - hari pertama mbak Ifa libur, kami gunakan untuk raker memutuskan apa saja yang akan kami lakukan dan menyusun jadwal hingga dua minggu ke depan. Di sini sebenarnya secara tidak langsung aku berusaha melibatkan Ifa untuk memilih kegiatan yang mau dilakukannya, dan berani menyampaikan pendapat. Namun ternyata belum cukup berhasil, mbak Ifa lebih banyak memintaku memilihkan aktivitas yang akan dilakukan. "Bunda aja ah yang milih." Beberapa kali hal tersebut yang dilontarkannya. 



Untuk memancing rasa antusiasnya, aku memberikan kak Ifa beberapa buku aktivitas dan meminta kak Ifa memilih beberapa aktivitas yang ingin dilakukannya. Ketika dia merasa kebingungan, aku berusaha untuk bertanya "bagaimana kalau kita bikin yang ini kak?" Ia mengangguk setuju untuk beberapa aktivitas. Namun beberapa kali juga ia menolak dan menyarankan aktivitas yang lain. Ketika dia mulai bisa menyampaikan pendapatnya, aku merasa senang karena itu artinya dia mulai mau mengungkapkan keinginannya dan tidak lagi "terserah, bunda."

Sayangnya saat itu aku sepertinya terlalu lama mengajak mbak Ifa berdiskusi dan dia mulai bosan setelah tiga puluh menit berlalu. Aku lupa kalau dia nggak bisa diajak berdiam diri lebih dari tiga puluh menit. Meski memilih kegiatan selama liburan cukup mengasyikkan, namun menungguku membuat jadwal dan mencatat keperluan apa saja yang kami butuhkan untuk proyek tersebut cukup membosankan untuknya. Apalagi di luar rumah beberapa temannya sudah mulai terlihat keluar dan mengajak bermain. Berhubung dia sudah menyelesaikan rutinitas paginya; mandi dan sarapan, maka dia boleh bermain dengan temannya. Sebelum keluar rumah, mbak Ifa sempat berpesan, "dicatat yang baik ya bunda apa saja yang mau kita beli. Nanti kalau bunda sudah mandi dan kita mau berangkat, aku dipanggil ya, jangan ditinggal lo." 

Hunting Perlengkapan Tempur


Setelah jadwal selesai disusun dan shopping list sudah di tangan, kami segera cuzz ke supermarket terdekat untuk membeli beberapa perlengkapan tempur seperti; cuka, baking powder, cokelat batang, kain flanel, kertas asturo, kertas manila, kokoru, dan masih banyak lagi. Nekatnya saat itu aku lupa kalau uang cash di dompetku baru saja kubelikan beras dan uang di ATM tinggal seberapa. Sudah gaya aja ambil ini itu, untungnya waktu mau ke kasir aku hitung dulu kira-kira berapa duit yang harus aku bayar. Setelah itu aku tengok dompet, lalu ketawa sendiri. Segera aku bilang ke Ifa, "kita kembalikan yang ini, yang ini, yang ini." Ifa pun bertanya, "kenapa, bun?" Sambil tersipu malu aku bilang ke dia, "ternyata uang bunda kurang, kan tadi udah buat beli beras. Nanti bilang ayah dulu ada beberapa barang yang belum dibeli." Ifa terkekeh sambil bergaya bilang, "bunda bunda... makanya ambilnya jangan banyak-banyak, yang dibutuhin aja." 

Mendengar Ifa berkata seperti itu aku jadi ingat perkataanku sendiri tiap kali dia minta jajan. "Nggak semua keinginan mbak Ifa bisa dipenuhi ya. Mbak Ifa harus bisa membedakan mana yang cuma kepengen, mana yang benar-benar mbak Ifa butuhkan. " Kena sendiri deh hari itu. Tapi kan yang mau dibeli memang dibutuhkan semua, salahnya cuma harganya nggak sesuai perkiran, wkwk. Ngeles dot com. Setidaknya jadi tahu lah meski kadang masih merengek minta jajan, mbak Ifa mulai bisa memahami beda keinginan dan kebutuhan.

Setelah kami selesai berbelanja perlengkapan tempur untuk proyek liburan, sampai di rumah kak Ifa langsung membongkar belanjaan dan bertanya apa yang mau dibuat. Padahal si emak pengennya istirahat dan leyeh-leyeh dulu, tapi berhubung kak Ifa mood nya lagi bagus, ya sudah kami eksekusi saja aktivitas pertama dalam rangkaian Fun Holiday Project ini; membuat papan bintang. Papan bintang ini digunakan sebagai record pencapaian kak Ifa selama liburan meliputi beberapa hal, antara lain kecerdasan spiritual (sholat dan mengaji), dan kemandirian. Jika aktivitas yang tercantum di papan bintang tuntas dilakukan mbak Ifa, maka mbak Ifa berhak mendapatkan satu bintang. Nanti di akhir periode bintang ini akan diakumulasi. Kami sudah mendiskusikan jika mbak Ifa mendapat 0 - 50 bintang maka mbak Ifa bisa mendapatkan benda A, jika mbak Ifa bisa mencapai lebih dari seratus bintang dia mau keinginanya untuk main pasir di salah satu supermarket dikabulkan. Jadi berapa bintangkah yang akan dicapainya? Tunggu di akhir periode ya.



Ifa sangat semangat menunggu papan bintangnya ditempel. Dia bertugas menghias papan bintangnya dan membantuku membuat bintang yang nanti akan ditempelkan. Ternyata aktivitas ini membuat sampah kertas bertebaran di mana-mana. Buat si emak kertas-kertas kecil itu mengganggu mata dan pengen segera dibersihkan. Ternyata buat mbak Ifa, kertas-kertas itu layaknya salju. "Asyiiik, aku main salju." Di sini aku akui daya kreativitas anak memang luar biasa. Sampah di mata ibunya bisa jadi permainan yang mengasyikkan. Aku biarkan ia bermain salju sepuasnya. Setelah aku merasa cukup, aku meminta ijin untuk menyapunya biar rumah enak dipandang. Eh kata mbak Ifa, "jangan disapu bun, mau aku lihatkan ke ayah saljunya." Si emak cuma menghela nafas, alhamdulillah akhirnya boleh juga salju-salju mainan itu dibersihkan bahkan mbak Ifa membantu membersihkannya.

Itulah sedikit kisah awal mula proyek liburan kami. Apa saja yang kami kerjakan dan apa saja kecerdasan yang bisa kami lejitkan bersama. Simak kisah-kisah berikutnya ya.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.


#tantangan_hari_kesatu
#game_level_3
#kelasbunsayIIP3
#kita_bisa
#melejitkankecerdasan
#bundasayang
#familyproject

Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email