Cara Melatih Anak Jujur Saat School From Home

cara melatih anak jujur
School from home itu memang memberikan tantangan tersendiri ya, sohib parents? Nggak hanya buat anaknya, orangtua pun memiliki ujiannya tersendiri. Ujian kesabaran, hehe.

Buat kami, tantangan saat mendampingi kakak sekolah dari rumah bukan hanya bagaimana membuat doi tetap semangat belajar. Menumbuhkan dan menjaga adab sebagaimana yang diajarkan dan ditularkan oleh para ustaz dan ustazahnya di sekolah agar tetap berlangsung di rumah adalah PR tersendiri.

Nggak tahu ya, kalau di rumah tuh kok si kakak cenderung santuy dan ada aja bantahannya. Padahal bundanya lebih galak lo dari ustazahnya. Kenapa kalau di sekolah lebih patuh, wkwk. Aaah, sepertinya hal ini memang membuktikan bahwa galak dan tegas itu berbeda. Tegas itu tidak harus galak, tapi membutuhkan konsistensi.

Btw, kali ini kami nggak mau curcol masalah konsistensi dalam pengasuhan sih. Namun mau mengajak sohib parents untuk ngobrolin tentang menumbuhkan kejujuran dalam diri anak.

Tak sedikit kami dapati fakta bahwa banyak sekali orangtua yang kurang sabar dalam mendampingi anak-anaknya belajar, dan akhirnya mengambil alih tugas si anak, lalu dikerjakannya sendiri. Selain nggak sabar, biasanya juga agar nilai anaknya bagus.

Sedih nggak sih? Tapi kami yakin sih, kalau sohib parents Rumah Kita nggak seperti itu kan ya?

Hal tersebut nggak hanya terjadi saat school from home lo. Bahkan jauh sebelum school from home, sudah banyak sekali kasus sejenis terjadi. Anak nggak selesai ngerjain PR, akhirnya emaknya yang ngerjain. Anak dapat tugas prakarya, eh bapaknya yang bikinin.

Terkesan sepele ya, tapi tahu kah jika terus dibiarkan seperti ini, hal tersebut memberikan dampak yang kurang baik untuk perkembangan anak-anak?

Dampak Anak yang Tak Dibiasakan Jujur

Beberapa hal yang mungkin bisa menjadi efek dari anak yang dibiasakan tak jujur dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah antara lain;

1. Anak Selalu Bergantung pada Orang Tua

Anak tidak memiliki inisiatif dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Mereka akan selalu bergantung pada orangtua. Mereka akan menunggu orangtuanya membantu mengerjakan tugas tersebut, atau malah akan timbul kondisi dalam diri mereka, “Aah paling juga dibantuin sama ayah atau bunda. Nggak usah dikerjakan saja lah.”

2. Menyepelekan Tugas

Pada akhirnya karena merasa selalu dibantu oleh orangtua, anak-anak akan menyepelekan tugas-tugas yang diberikan. Efeknya akan merembet pada tugas-tugas di luar sekolah, ketika mereka diberikan amanah oleh orang lain, mereka akan kerap menyepelekan amanah tersebut. Tidak selesai dengan yang seharusnya menjadi tugas mereka.

3. Tidak Tumbuh Rasa Tanggung Jawab

Yang paling berbahaya adalah tumpulnya rasa tanggungjawab di dalam diri. Karena merasa selalu dibantu orangtua dan tugas selesai dengan instan, tidak tumbuh rasa tanggungjawab dalam dirinya. Saat diberikan amanah, ia akan mudah ngeles dan melemparkan tanggungjawab pada orang lain.

Lalu muncullah bibit membayar orang lain untuk mengerjakan hal-hal yang seharusnya menjadi tugas dirinya. Tidak akan muncul rasa bersalah karena itulah yang dicontohkan dari kedua orangtuanya. Jadi mereka pikir, hal tersebut adalah hal normal dan biasa.

Tentu tak mau kan anak-anak kita tumbuh menjadi sosok-sosok yang seperti itu?
tips melatih kejujuran

Cara Melatih Anak Jujur Saat School From Home di Rumah Kita

Demi melatih kejujuran dan rasa tanggungjawab di dalam diri anak-anak, di Rumah Kita anak-anak kami tidak akan mendapatkan bantuan secara langsung jika itu menyangkut tugas sekolah. Anak-anak sudah diberikan pengertian bahwa kami, orangtuanya, hanya akan mendampingi dan mengarahkan mereka jika mereka mengalami kesusahan. Namun tugas untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah harus dilakukan oleh mereka sendiri.

Jika anak merasa kesulitan membuat tugas prakarya, kami akan membuat bersama-sama, bukan ayah atau bundanya yang membuat. Lalu anaknya yang tinggal melaporkan hasil jadinya ke ustaz atau ustazahnya.

Selain itu jika mendapat soal latihan dari ustaz/ ustazah, kami akan mengecek jawaban yang diberikan. Jika soalnya hanya pengayaan atau latihan, kami akan mengoreksi dan menunjukkan jawaban yang salah. Akan tetapi jika soal-soal tersebut merupakan soal ujian, kami hanya akan mengoreksi dan bertanya pada anak, “Apakah sudah yakin dengan semua jawaban? Coba diteliti lagi. Jika memang sudah merasa yakin, silakan disetorkan pada ustaz/ ustazah.”

Ya, khusus soal ujian, kami tidak akan menunjukkan letak kesalahan anak. Namanya juga ujian, mengulang materi yang sudah diberikan sebelumnya, seharusnya anak-anak sudah belajar materi tersebut.

Tak masalah anak-anak mendapat nilai rendah, asalkan mereka mengerjakan ujian tersebut dengan mengerahkan kemampuan sendiri. Bukan karena dibantu oleh orangtuanya. Agar menjadi PR juga buat kami, orangtuanya, sejauh mana materi belajarnya diterima oleh anak.

Buat kami, nilai bukanlah menjadi patokan kesuksesan bagi anak. Nilai hanya sekadar angka. Kesuksesan anak bila ia mampu menanamkan dan melakukan kebaikan bukan karena disuruh orangtua, namun atas kesadaran untuk mencari ridho Allah.

Kami juga selalu menyampaikan bahwa “Kamu bisa membohongi ayah dan bunda, tapi tahu kan siapa yang tak bisa kamu bohongi Nak? Ada Allah yang selalu melihat perilakumu. Ada malaikat yang akan mencatat amal baik dan burukmu.”

Semua ini hanyalah ikhtiar, semoga saja apa yang kami ajarkan kepada anak-anak bisa melekat hingga kelak mereka dewasa dan tidak lagi tinggal bersama orangtuanya. Semoga Allah selalu melindungi anak-anak kita ya, sohib parents. Terus semangat membersamai anak-anak!
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email