Wejangan untuk Anakku; Beragamalah dengan Pas, Tapi Jangan Pas-pasan

wejangan untuk anakku
Nak,
Pagi ini bunda ingin bercerita tentang taman kanak-kanak
Sama seperti bundamu,
Nenekmu kala itu juga menginginkan putrinya mengenal agama lebih baik dari dirinya
Berharap semakin dini dibekali dengan ilmu
Semakin kuat iman yang menancap di dada

Meski tak sehebat dirimu,
tapi bunda juga larut dalam beberapa surat pendek di masa kanak-kanak
nenek-kakekmu buta mengeja Iqro'
itulah kenapa tiap sore, beliau mengirim bunda ke masjid
belajar mengeja abata, juga mengenal segala macam tajwid

Tapi sebatas itulah ingatanku pada agama, Nak
Saat ku beranjak tua,
sadarlah bahwa masih banyak hal abu-abu dalam kepala
terkadang bundamu merasa terlalu telat berkenalan dengan jalan cahaya

Nak,
Tiada salah bukan jika setiap orangtua menginginkan anaknya menjadi lebih baik?
Mungkin terkesan memaksa,
Tapi bukan tanpa alasan
Kami yang lahir lebih dulu darimu, telah merasakan asam manisnya hidup
Bagaimana jiwa mampu luluh lantak tanpa bekal yang cukup
Dan sungguh kami hanya berharap kau tak perlu luluh lantak terlebih dahulu
Sebelum sampai pada jalan yang menuju kebenaran

Nak,
Tak ada sedikitpun terbersit dalam pikiran kami
Mencekokimu dengan dalil-dalil
Apalagi merampas masa kanak-kanakmu
Ya, kami memang larut dalam haru ketika hafalan yang kau miliki bahkan melejit melebihi yang kami punyai
Namun tak sedikitpun kami melarangmu menari mengikuti irama yang memang menarik kaki untuk saling berjejak
Bahkan kami senang saat suara indahmu, pemberian dari Gusti Sang Maha Agung, melagukan nada berbahasa asing, sama fasihnya saat kau merapal hafalan Juz Amma-mu
Fitrah manusia mencintai keindahan
hanya tugas kita memilih hiburan mana yang akan meninggikan kecintaan
pun mana yang akan melalaikan

Tak akan kami berani mencerabut indahnya kanak-kanakmu
karena ini adalah titik awal bagimu mengenal dunia
kami ingin mengenalkanmu pada indah semesta
juga cintaNya yang luar biasa

Maka kami biarkan kau berlari-lari dalam hujan
mensyukuri air dari langit yang penuh keberkahan
Maka kami kenalkan pohon, burung juga udara
sebagai bukti cintaNya yang tiada dua  

Nak,
Ini bukan saatnya kau larut dalam dalil-dalil
namun tentu kau tetap perlu tahu dan belajar
Karena ilmu akan menjadi penuntun terbaik menemukan jalan yang lurus
Namun ingatlah petuah para guru
Sebelum ilmu, tegakkanlah adab

Tak perlulah kau bingung memegang dalil ini atau itu
Biarkan nanti ilmu yang akan memberikanmu jawaban
Yang terpenting jangan biarkan keilmuan menggerus rasa
Hingga kau tanpa rasa bersalah menuding sesama dengan sebutan yang tak pantas
Hanya karena mereka belajar hal yang sama sekali berbeda denganmu
Hanya karena mereka meyakini hal yang tak sama denganmu

Nak,
Dunia ini terlalu luas untuk dilihat hanya dengan dua mata kecilmu
Itulah kenapa Allah berikan juga dua telinga
Agar kau mampu mendengar cerita-cerita dari seluruh pelosok dan penjuru kota
DititipkanNya pula dua tangan,
Agar kau bisa menerima banyak uluran dengan beragam kisah
Lalu memberi kasih untuk setiap perbedaan
Dua kaki yang sehat akan menuntunmu pada petualangan-petualangan baru
Bertemu dengan aneka pendapat yang tak selalu padu

beragama jangan pas-pasan

Nak,
Berbeda itu wajar
Berbeda itu fitrah
Allah menciptakan suku demi suku, bangsa demi bangsa, bahasa demi bahasa
Bukan porsi kita menasbihkan diri paling benar
Janganlah jumawa dengan dada busung, menganggap ilmu kita paling benar
Sesungguhnya kebenaran sejati hanyalah milikNYA

Maka, nak…
Jadilah muslim muslimah yang religius,
Tapi jangan pernah tinggalkan sisi manusiawimu
Belajarlah dari teladan terbaik sepanjang zaman
Bukankah para gurunda selalu mengisahkan tentang Beliau di setiap pekan?
Ingatkah bagaimana Rasulullah SAW memberi makan pengemis buta yang selalu menghinanya?
Ingatkah bagaimana Rasulullah SAW bersikap saat bebatuan dilemparkan ke arah tubuhnya?

Nak,
Ustaz-ustazahmu adalah guru-guru pilihan, tapi mereka tetaplah manusia biasa
Apalagi kedua orangtuamu yang miskin ilmu ini
Pasti akan ada banyak salah kami di saat membersamaimu belajar tentang hidup
Maka saat kami salah,
Cukupkanlah belajar pada teladan terbaik sepanjang zaman
Karena ia diturunkan untuk dicontoh sebaik-baiknya

Nak,
Bunda tak akan melarangmu
Menjadi sosok yang modern pun kekinian
Karena inilah duniamu, yang penuh dengan kecanggihan
Sudah sepatutnya kau mengikuti perubahan zaman
Bukan sekadar buat gaya-gayaan
Namun demi meraup semakin banyak sudut pandang agar tak pas-pasan
Karena yang pas-pasan seringkali lebih mudah terjatuh pada kesalahan
Karena yang pas-pasan seringkali lebih mudah larut pada kerumunan
Karena yang pas-pasan seringkali lebih mudah terbuai oleh bujukan

Nak,
Jangan jadi muslim muslimah yang pas-pasan
Jadilah generasi terbaik dengan memaksimalkan potensi yang Allah berikan
Kuatlah pada prinsip yang jelas akan menuntunmu pada sebenar-benar cahaya
Bukan cahaya buatan yang silau, memesona dan lebih sering menyesatkan

Nak,
Namun jangan pula kau melanggar batasan
Ada saatnya kau perlu tahu kata pas dalam beberapa keadaan
Titik pas dalam beragama adalah Al Quran
Sebagai sebaik-baiknya pedoman.

Berkreasilah,
Berimajinasilah,
Bereksplorasilah,
Berpetualanglah,
Berkaryalah,
Tapi jangan pernah keluar dari relnya
Dan rel bagi setiap muslim dan muslimah adalah kitabnya
Kitab yang tak pernah lekang oleh zaman

Nak,
Pilihan ada di tanganmu
Akankah kau menjadi moderat, fanatik, radikal atau malah liberal
Tak akan pernah kami menyalahkan jalan yang kau ambil
kami hanya makhluk, tak pantas melabeli pilihan yang berbeda
selama kau menafsirkan dengan pas, tidak pas-pasan, apalagi asal-asalan
selama kau menafsirkan dengan ilmu juga iman
dan bukan sekadar memperturutkan hawa nafsu yang kebablasan

Namun kau perlu tahu,
bahwasanya istilah-istilah itu seringkali menjadi jurang pemisah bagi yang seharusnya bersatu padu
merusak laut yang tenang menjadi buih-buih tak beraturan
Buat kami, selama kau masih mengimani Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Qodho dan Qodar dengan ilmu yang pas, dan tidak pas-pasan,
sudahlah cukup melegakan.

Perlu juga kau mengerti,
ada konsekuensi di setiap pilihan
ada pro dan kontra di setiap  jalan

Orangtuamu yang fakir ilmu ini hanya bisa menitipkan satu bekal;
Jangan biarkan rasa mematikan logika
Pun cegahlah logika membunuh rasa
Keduanya dititipkan Allah agar kau menjadi sebaik-baik insan
Sungguh sejatinya, seni beragama adalah tentang pas,
yang tidak pas-pasan
  


***


Dari Bundamu yang baru saja menyelesaikan sebuah buku karya Kalis Mardiasih, berjudul “Hijrah Jangan Jauh-jauh, Nanti Nyasar!

Ditulis untuk memenuhi tugas #RCO9, #OneDayOnePost , #ReadingChallengeODOP9

Medio 17 Maret 2021, 
dalam sunyinya kamar diiring dengkur halus ayahmu dan laku lelap tidur kalian.
Marita Ningtyas
Marita Ningtyas A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

No comments for "Wejangan untuk Anakku; Beragamalah dengan Pas, Tapi Jangan Pas-pasan"