Allah Selalu Ada Untukku, Sebuah Buku yang Ditunggu



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh. 

Akhirnya bisa juga meluangkan waktu untuk mencatat perjalanan kegiatan membacaku bersama anak-anak. Ya, game level 5 di kelas Bunda Sayang sudah berjalan sekitar satu minggu. Teman-teman sekelas sudah berlomba-lomba setor cerita-cerita serunya, dan aku belum setor sama sekali. Uhuk. Ke mana saja bu? 

Fyi, tujuan tantangan 10 hari game level 5 ini fokus pada menstimulasi anak gemar membaca. Para peserta Bunda Sayang di level ini diminta untuk membuat Pohon Literasi. Satu buku diharapkan sudah menuntaskan satu buku cerita setiap harinya. Tidak hanya untuk anak, namun juga orangtuanya. Seruuuuu! 

Karena Aku Suka Membaca 

Membaca adalah salah satu aktivitas yang aku gemari. Sejak aku menguasai ketrampilan membaca, ibu menghadiahkanku langganan Bobo setiap Minggu. Setiap kali Bobo edisi terbaru diantar ke rumah, pengennya langsung dituntaskan segera. Bahkan ketika sudah saatnya tidur malam, ibu sampai harus memaksaku segera menutup mata dengan mengganti lampunya lebih temaram. Aku sering membohongi beliau dengan pura-pura meringkuk, tapi begitu ibu berlalu, perlahan kubuka kembali Bobo yang kusimpan di bawah bantal. Rasanya belum ikhlas mata terpejam kalau semua halaman Bobo belum kutuntaskan. 

Selain berlangganan Bobo, ibu yang seorang guru sering membawakan aku buku-buku bacaan dari perpustakaan sekolahnya. Aku juga beberapa kali pinjam dari perpustakaan sekolahku. Bisa dibilang books are the best friends! Aku bisa tahan nggak keluar rumah seharian asal ada buku di tangan. Aku bisa menunggu apapun tanpa bosan, asal ada buku yang bisa dibaca. Di angkot, di sekolah, di jalan, aku bisa membaca di mana saja. 

Kegemaranku membaca masih terus berlanjut hingga duduk di bangku SMP, SMA, perguruan tinggi bahkan hingga sekarang. Dari Bobo beralih ke Kawanku, lalu An Nida, singgah pula ke Horizon, dan kemudian kini lebih sering terdampar pada buku-buku parenting. Bedanya jika dulu satu buku bisa habis sekali duduk atau paling lama seharian, kini satu buku bisa diselesaikan dalam sebulan saja sudah hebat. 

my old books
Bukan hanya soal waktu yang terbatas, tapi gadget semakin menjauhkanku dari buku. Hiks, parah. Tapi begitu pegang buku, aku bisa lupa makan, lupa tidur, bahkan lupa ngurus anak, waduuuh, hehe. Pokoknya kalau sudah baca buku yang menarik, berasa kaya lagi nonton drama Korea yang berseri-seri, pengennya segera dituntasin saat itu juga. 

Karena aku tahu begitu asyik dan pentingnya membaca, aku juga ingin menularkan kegemaran itu pada anak-anakku. Alhamdulillah ayahnya anak-anak pun juga cukup senang membaca. Jadi ingat dulu kami suka berkencan di toko buku, dia di deretan buku komputer, dan aku asyik menjelajah buku-buku sastra. Salah satu cita-citaku waktu kecil adalah punya mini library di rumah. Kalau dulu ibu sudah mengenalkanku dengan Bobo dan buku-buku bacaan klasik, aku pun tak mau kalah dengan beliau. Saat Ifa masih berumur delapan atau sepuluh bulan, aku sudah mulai membelikannya soft books. Dengan gambar yang besar dan tulisan singkat-singkat, dan tentu saja aman untuk bayi. 

Hingga kemudian aku mulai kenal dengan penerbit buku-buku paketan yang awalnya membuat aku terhenyak. Ya, harganya cukup bikin keringat mengucur untuk kantongku. Namun setelah melihat kualitas dan isinya, buatku harga yang dibanderol memang pantas. Aku mulai mengoleksi satu demi satu, meski sampai sekarang pun belum lengkap juga. Beberapa buku eceran pun semakin melengkapi koleksi kami. Beruntung punya teman-teman penjual buku, jadi kami nggak perlu hunting ke toko buku, bahkan saat ada Pre Order sudah dikabari lebih dulu. 

Buatku membuat anak mencintai buku dan aktivitas membaca jauh lebih penting daripada sekedar mengajarkan ketrampilan membaca. Apalah artinya bisa membaca sejak dini, jika lihat buku saja sama sekali tak tertarik? 

mbak Ifa loveeeessss reading
Dan keyakinan itu terbukti. Tanpa harus dipaksa, Ifa mulai mengenal huruf dan angka juga mulai tertarik bagaimana cara bacanya karena sering bersentuhan dengan buku. Ketika sudah sampai di tahap ini, insya Allah tidak akan butuh waktu lama mengajarkannya ketrampilan membaca. 

Day 1, Akhirnya Datang Juga! 

Sebenarnya meski aku tidak langsung setor tulisan. Aktivitas membaca sudah dilakukan di rumah. Hal yang menyentilku di tantangan ini yaitu mulai kembali aktif membacakan buku kepada anak-anak. Ya, sekarang justru ayahnya yang lebih sering jadi tukang cerita. Padahal waktu Ifa kecil sampai sebelum adiknya lahir, aku cukup rajin jadi tukang cerita buat Ifa. 

Eh begitu adiknya lahir, keasyikan menikmati cerita si ayah. Tapi aku baru merasakan dampaknya sekarang. Ifa sudah dikenalkan dan rajin aku bacakan buku sejak usia delapan atau sepuluh bulanan, efeknya kosa kata yang dimilikinya begitu banyak. Setahunan dia sudah cukup jelas berbicara dengan beberapa kata. Sedangkan Affan di usianya yang ke-15 bulan, baru lancar bilang ayah dan udah. Jleb banget ini. 

Makanya tantangan 10 hari ini benar-benar sebuah tamparan yang insya Allah menyadarkanku untuk kembali ke jalan yang benar. Kalau secara ketertarikan, Affan pun mainannya sudah buku. Jika dibandingkan dengan Ifa dulu, jelas fasilitas buku yang ada sekarang jauh lebih memadai. Namun kalau emaknya nggak pernah bacain, ya gimana mau terstimulasi? Alhamdulillah karena sering melihat mbaknya buka-buka buku, dan ayahnya membacakan cerita, si Affan mulai suka ambil buku dan disodorkan kepadaku, “eh eh”. Maksudnya “bacain, bun…” 

Affan mulai menyukai buku

Nah, ketika tantangan 10 hari dimulai, qodarullah buku yang lama banget aku pesankan buat anak-anak akhirnya mendarat juga di rumah. Allah Selalu Ada Untukku (ASAU), sebuah buku dengan full ilustrasi aneka warna karya mbak Amalia Kartika Sari, sudah mencuri hatiku. Buku ini merupakan seri kedua. Seri sebelumnya aku telat ikut pre order, jadilah aku nggak kebagian yang edisi hard cover. Alhamdulillah masih bisa mengoleksi yang soft cover. 



Jika yang edisi pertama Allah Ciptakan Tubuhku lebih ke mengenalkan anak-anak untuk mensyukuri tubuh pemberian Allah, ASAU menjadi sarana yang baik untuk memantapkan tauhid pada diri anak-anak. Recommended banget untuk dibaca, nggak cuma buat anaknya, buat orangtuanya aja makjleb banget. 

Betapa urusan dunia seringkali melalaikan kita untuk mensyukuri setiap hal kecil ataupun besar yang ada dalam hidup, dan buku ini mampu menyadarkan kita untuk senantiasa bersyukur. Bahwa apapun yang terjadi, Allah akan selalu ada untuk hamba-hambaNya. Tidak pernah sedetik pun IA meninggalkan hambaNya, yang ada seringkali kita yang menjauh dariNya. 

Komentar Ifa saat pertama kali membuka paketan berisi buku ini, “wow, bagus banget. Gambarnya cantik ya bun.” Saat aku membacakan lembar demi lembar, ia memperhatikan cukup baik. Affan yang saat kubacakan pertama kali sambil menyusu pun berkali-kali mengerjapkan mata. Mengingatkanku bahwa sudah ada fitrah iman di dalam diri setiap manusia, jangan sampai fitrah itu tergerus hawa nafsu dan dunia. 

Ketika buku selesai kubaca, Ifa pun berkomentar “aku sayang Allah, bun. Allah kan baik ya.” It’s time to install the values! “Kalau mba Ifa sayang Allah, harus bagaimana menunjukkan sayangnya?” Tanpa perlu waktu lama Ifa pun menjawab, “sholat lima waktu, ngaji, membantu ayah bunda, sayang sama Affan…” Alhamdulillah, semoga istiqomah ya nak. 

Selain kertas glossy yang tebal, ilustrasi yang menarik dibalut dengan hard cover, ASAU juga dilengkapi dengan potongan ayat Al Quran yang semakin menguatkan isi buku. Benar-benar membantu sekali untuk ibu macam aku yang ilmu agamanya secuil ini. Sembari membacakan buku, aku juga bisa mengecek hafalan surat pendek mbak Ifa. Di akhir buku ditampilkan doa yang sangat bagus, diambilkan dari surat An Naml. 



Selain membacakan anak-anak ASAU, di hari pertama tantangan 10 hari ini aku masih berproses menyelesaikan buku Inspirasi dari Rumah Cahaya besutan Ustad Budi Ashari. Sudah dua mingguan di tangan belum kelar juga bacanya. Bahasanya sangat mengalir dan begitu mudah dipahami. Kalau dua minggu nggak kelar-kelar, itu karena si emak kebanyakan buka gadget di saat punya waktu yang harusnya bisa diisi dengan membaca. Plak. 

Buku ini merupakan salah satu buku yang dianjurkan dibaca ketika kami mengikuti tes penerimaan santri Kuttab Al Fatih agar kami lebih paham dengan konsep parenting nabawiyah. Dan memang bukunya cespleng banget kok menyentil aku sebagai orangtua yang sering tergugah dengan konsep parenting dan psikologi barat, namun lupa kalau di Islam sendiri Rasulullah sudah punya konsep parenting yang oks banget buat ditiru. Konsep yang sudah jelas melahirkan generasi terbaik. Doakan semoga emak istiqomah untuk segera menuntaskan isi buku ini ya. 



Oya, ada sebuah kejutan di hari pertama buku Allah Selalu Ada Untukku tiba di rumah. Kreeeeek. Affan merobek satu halaman di buku ini. “Affaaaan, jangan to... ini kan baruuu. Bukunya rusak to…” Ifa langsung berteriak melihat adiknya merobek buku. “Namanya juga lagi belajar mbak. Yuk, kita obati bukunya…” Kuambil selotip besar dan gunting, lalu aku ajak anak-anak ‘mengobati’ bukunya. 

Jadi ingat salah satu materi di sebuah kuliah whatsapp tentang mengajarkan anak mencintai membaca beberapa bulan lalu. Dalam proses mengenalkan buku kepada anak, jangan takut anak akan merusak buku. Jika takut anak merobek buku, kenalkan dengan board book, buku bantal, atau soft book. Tapi kalau qodarullah kita ketemu keadaan anak merobek buku, ya jangan dimarahi. Anak kan belum tahu how to treat a book well. Justru keadaan itu jadi momen buat kita untuk mengajarkan bagaimana merawat buku. 

sobeeek
Alhamdulillah Ifa sudah nggak pernah nyobek-nyobek buku saat umur dua tahunan, karena insya Allah sudah paham bagaimana harus memperlakukan buku. Nah, karena Affan baru mengenal buku, ya wajar kalau masih suka krak krek, krak krek. Kalau sudah dengar bunyi krek, nanti Ifa yang lari ke emaknya dan meminta si buku segera ‘diobati’. 

Proses mengenalkan buku dan menanamkan kecintaan membaca pada anak memang bukanlah proses yang instan. Terkadang ada kalanya kita meringis kala buku yang kita beli setelah nabung berdarah-darah disobek anak dengan tanpa berdosa. Ya, itulah ujiannya. Sungguh ini berat, beneran kamu kuat? 

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh. 





#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingsToChangeIMustChangeFirst



Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email