Ini Gaya Belajarku, Mana Gaya Belajarmu?



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh. 

Tantangan sekali memang ya mengikuti kelas matrikulasi, lalu lanjut ke Bunda Sayang. Mengatur waktu untuk menulis tantangan setiap hari itu pekerjaan yang butuh effort kuat buatku. Di depan laptop sih hampir tiap hari. Tapi begitu laptop dibuka, sederet to do list juga menghampiri. Dan menulis tantangan 10 hari kok ya selalu saja jadi yang terpinggirkan. That’s why sudah empat game berjalan di Bunda Sayang, aku istiqomah dapat badge dasar terus. 

Mendapat badge dasar saja sudah bersyukur sekali. Alhamdulillah bisa tetap berhasil menyelesaikan tantangan meski terseok-seok. Bahkan level ini pun aku telat membuat aliran rasa, sampai lupa setor. 

Mengamati gaya belajar anak memang menarik. Di akhir sesi level ini, aku jadi semakin mengenal mbak Ifa dan bagaimana kenyamanannya dalam belajar. Mbak Ifa tidak sepenuhnya kinestetik. Di saat yang dibutuhkan, mbak Ifa tetap bisa duduk dan mau mendengarkan guru atau orangtuanya, asal materi yang disampaikan menarik. Kalau membosankan buat dia, ya pasti akan mulai cari-cari kesibukan sendiri. 

Selain nggak bisa anteng, yang aku temukan sebelum game level 4 ini berlangsung, mbak Ifa memiliki gaya belajar visual. Dia senang dengan buku-buku bergambar, menanyakan tentang ini itu yang dilihatnya, tapi kurang begitu betah menonton film. Semakin besar aku amati jika pun dia tertarik dengan salah satu tayangan YouTube, dia tidak akan melihatnya sampai selesai. Baru di tengah tayangan, ganti ke tayangan lain. Sepertinya dia lebih nyaman belajar dengan mode gambar tak gerak. Jika diajak ke bioskop pun nggak bisa menyimak filmnya sampai akhir, malah naik turun tangga. 

Saat ini selain suka melihat gambar tak gerak, mbak Ifa juga lagi senangnya menggambar apa saja. Jika dulu gambarnya masih nggak jelas bentuknya, semakin hari gambar yang dibuatnya semakin kelihatan jelas berbeda antara manusia dengan benda. Mulai bisa membuat mobil, tas, kursi dan benda-benda lain. Alhamdulillah. 

Di akhir perjalanan bersama game level 4 baru aku sadar kalau gaya belajar audio mbak Ifa pun meningkat cukup pesat. Memang sih selama ini dia hobi dibacakan cerita, berarti secara nggak langsung kan dia punya gaya belajar audio ya. Cuma dulu dia suka pilih buku cerita bergambar, sambil diceritain, dia lihat gambarnya. 

Ternyata semakin bertambahnya usia, dia semakin bisa mendengarkan dengan baik. JIka dulu di sekolah bu guru sedang menceritakan sebuah kisah, aku tanya di rumah kisahnya seperti apa, dia cuma jawab “nggak tahu.” Sekarang dia mulai bisa menangkap isi kisah dan menceritakan ulang yang didengarnya. 

Bahkan sekarang mbak Ifa juga hobi mendengarkan kisah-kisah yang ada di hafizah doll. Dulu mana tertarik. Sekarang tiap kata sampai hafal dan bisa menceritakan ulang padaku. Alhamdulillah. 

Memang sih sampai akhir game level 4, aku masih belum bisa menemukan gaya belajar mana yang paling dominan di diri mbak Ifa, tapi nggak masalah. Insya Allah ke depannya kami akan sama-sama belajar dan menemukan. 

Sekarang waktunya bersiap masuk ke game level 5. Sebuah game yang sudah jadi kebiasaan di rumah kami, namun juga sekaligus menantang, karena sudah lama bagian tukang cerita diambil alih sama si ayah, hehe. Sekarang aku malah jarang bacakan cerita buat anak-anak nih. 

Oke deh, parents. Sampai jumpa di game level 5 dengan tantangan-tantangan yang lebih seru ya. 

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh. 

Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email