Buku Mengalihkan Dunia Mbak Ifa

2 comments


Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Selain gerakannya yang cukup aktif, gaya belajar visual dan audio juga bisa aku temukan di diri mbak Ifa. Semakin usianya bertambah, mbak Ifa mulai bisa diam cukup lama ketika dihadapkan pada tumpukan buku. Meski belum bisa membaca, mbak Ifa sangat tertarik dengan buku. Dia bisa duduk dengan tenang hingga tiga puluh menitan hanya untuk membuka halaman demi halaman, menikmati  gambar demi gambar yang ada.


Jika ada pertanyaan yang muncul di kepalanya, ia akan membawa bukunya kepadaku atau ayahnya dan meminta penjelasan. Ia mendengarkan setiap penjelasan yang kami sampaikan dengan baik. Jika jawaban kami belum memuaskan, mbak Ifa akan terus bertanya hingga rasa ingin tahunya terpuaskan.



Karena belum bisa membaca, maka kekuatan mendengarkan cerita menjadi andalan mbak Ifa. Ia bisa mengingat cerita dari hampir semua koleksi bukunya hanya dengan mendengarkan cerita yang ayah dan bundanya bacakan. Biasanya ketika sedang berada di motor denganku, dia akan menceritakan ulang hal-hal yang dibacakan ayahnya. “Kata ayah to bun, awan itu ada banyak jenisnya lo,” misalnya seperti itu.

Aku memang mengenalkan buku kepada mbak Ifa dan Affan sejak baby. Bahkan Affan kenal buku jauh lebih cepat dari kakaknya. Tentu saja. Ketika Ifa baby, aku belum mengenal buku-buku paketan, aku baru mengenal buku-buku eceran biasa dan buku kain. Baru ketika usianya menjelang tiga tahun, aku mulai mengoleksi beberapa buku paketan, yang sampai sekarang belum selesai juga wishlist-nya, hehe. Sedangkan Affan sejak lahir jebrol, koleksi mini library kami Alhamdulillah sudah cukup terisi.





Satu hal yang pernah membuatku takjub ketika mbak Ifa berusia tiga tahunan, mbak Ifa bisa mengambil buku Halo Balita sesuai judul yang dia inginkan tanpa melihat gambar sampulnya. Bukunya kan ditata sedemikian rupa sehingga hanya terlihat tulisan judul di sampingnya dan sampul depannya tidak tampak. Saat itu mbak Ifa belum bisa membaca huruf dan angka satu pun. Maka saat itu aku berkeyakinan bahwa dia menghafal susunan hurufnya karena sering dibacakan buku-buku tersebut. Mengingat metode pelatihan membaca untuk baby yang saat itu aku tahu sistemnya pun seperti itu. Anak bisa tahu kata demi kata karena melihat susunannya yang berbeda-beda. Itulah salah satu kekuatan gaya belajar visual yang aku temukan di diri mbak Ifa.

Lucunya untuk urusan visual, mbak Ifa lebih tertarik dengan buku dibandingkan video. Ketika dulu masih punya gadget time dan diperbolehkan menonton YouTube, mbak Ifa nggak pernah bisa menonton video hingga selesai. Jarang sekali. Biasanya baru beberapa menit sudah langsung diganti ke video yang baru. Sejak kecil pun seperti itu, setiap kali aku mengajaknya menonton video kisah nabi atau film-film edukasi, dia jarang sekali betah hingga film selesai. Lha wong nonton Frozen aja nggak bisa anteng, padahal dia sendiri yang minta diputarkan. Apalagi nonton film di bioskop. Terakhir kali nonton film di bioskop, mbak Ifa malah naik turun tangga mengikuti Affan yang nggak bisa diam juga, hehe.






Dari pengamatanku hingga hari ini, hanya buku yang bisa mengalihkan dunia mbak Ifa. Jadi kalau aku sudah kelelahan menanggapi keaktifan mbak Ifa, salah satu triknya yaitu “baca buku yuk mbak.”  Dia pun nggak kuasa menolak ajakan tersebut dan segera memilih beberapa buku. Ya, meski aku tahu nggak mungkin dia puas dengan hanya dibacakan satu buku. Setidaknya aku dan ayahnya bisa selonjoran lah, meski mulutnya pegel juga setelah itu, hehe. Tapi bukankah masa-masa ini yang nanti kami rindukan?

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.


NB: Maaf ya fotonya pakai koleksi lama, selain nggak sempat ambil gambar. HP sedang diservis, jadi semakin tidak memungkinkan mengabadikan momen-momen penting beberapa hari ini.


#hariketujuh
#Tantangan10hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#kuliahBunSayIIP


Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

2 comments

  1. Enak yaa, masih kecil suda menyukai buku :)

    ReplyDelete
  2. Wah, lebih tertarik sama buku daripada gadget, hehe. Bagus dong ^^

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email