Cerdas Sosial Emosi dengan Bersilaturahmi



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Masih di rangkaian our first family project; Fun Holiday. Libur hari ketiganya mbak Ifa kala itu diisi dengan silaturahmi keluarga besar Soenardhi D.S yang merupakan keluarga besar dari pihak neneknya mbak Ifa. Setiap akhir tahun keluarga besar kami memang berkumpul karena momennya selalu pas dengan liburan, sekaligus mengadakan syukuran untuk anggota keluarga yang bertambah usia di bulan Desember. Qodarullah di bulan Desember ada beberapa anggota keluarga yang usianya nambah, dari generasi eyang hingga generasi cucu, termasuk Mbak Ifa yang tanggal 28 Desember lalu berusia enam tahun.

Sebenarnya sih aku dan ayahnya mbak Ifa sudah mulai membiasakan untuk tidak merayakan ulang tahun dan semacamnya. Namun karena ini persembahan dari eyang-eyangnya mbak Ifa ya sudah, dinikmati saja. Menyenangkan orang lain toh juga sebuah kebaikan.

Setiap kali ada momen kumpul keluarga seperti ini, aku pasti sounding jauh-jauh hari ke mbak Ifa apa saja do and don'ts nya. Karakter mbak Ifa yang unik membuat aku dan ayahnya harus selalu menjaga moodnya agar tidak rusak dan bisa ikut bergabung acaranya, tidak hanya nempel pada kami - orangtuanya. Meski dengan keluarga besar, mbak Ifa nggak bisa langsung membaur, selalu butuh adaptasi dulu beberapa saat hingga merasa  nyaman.



Saat kumpul keluarga tanggal 25 Desember yang lalu, kami juga telah sounding kepada mbak Ifa untuk bersikap baik. Beberapa hal baik yang harus dilatih dan dilakukan mbak Ifa selama silaturahmi antara lain;
  1. Memberi salam dan salim kepada yang lebih tua.
  2. Menjawab ketika ditanya.
  3. Jika ingin sesuatu, katakan dengan jelas.
  4. Jika ada yang tidak berkenan di hatinya, bicarakan dengan baik-baik bukan dengan tangisan.

Sayangnya meski sudah disounding jauh-jauh hari, nomor 1 dan 2 belum bisa dilaksanakan oleh mbak Ifa. Ketika para eyang, om dan tantenya menyapa dan mengajak salaman, mbak Ifa bersembunyi di belakang tubuhku dan menolak bersalaman dengan mereka. Begitu juga ketika ditanya tentang kabar, sekolah dan raport, mbak Ifa hanya senyum sambil glendotan ke tubuhku. 

Bahkan saat bergantian berfoto dengan kue ulang tahun rame-rame, mbak Ifa nggak mau. "Bunda, Ayah, Affan aja lah yang difoto." Laah, padahal kan yang tambah usia dia, kenapa jadi kami yang harus difoto. Untungnya eyangnya mbak Ifa cerdik, kami disuruh berjajar di tempat mbak Ifa berdiri, cekrek. Dapat deh foto barengnya, hehe.

Sampai saat kami pamit pulang pun, mbak Ifa tetap nggak mau salim dan berpamitan pulang. PR banget deh buat aku mengajarkan adab bertamu dan bersilaturahmi. Ya, meski nomor 1 dan 2 belum bisa berjalan baik, alhamdulillah nomor 3 dan 4 sudah mampu dilakukan oleh mbak Ifa.

mbak Ifa nggak mau nerima hadiahnya sendiri

Mbak Ifa punya kebiasaan kalau ingin sesuatu nggak langsung mengungkapkan keinginannya, tapi suka merengek nggak jelas bikin ayah bundanya ilfil. Ditanya pun nggak mau ngomong. Ntar kalau kita nebak keinginanya salah, eh dia marah. Bingung kan? Begitu juga saat ada yang nggak sesuai dengan maksud hatinya, dia nggak mau ngomong apa yang dia rasakan, ujung-ujungnya nangis dan tantrum.

Bukan sepenuhnya salah mbak Ifa sih, salah pola asuh di awal usia mbak Ifa sepertinya juga berpengaruh pada bagaimana mbak Ifa mengungkapkan emosinya. Maka sekarang jadi PR banget buat ayah bundanya untuk membuat mbak Ifa lebih cerdas dalam menata dan mengungkapkan emosi. 

Alhamdulillah, pas silaturahmi keluarga besar yang lalu, mbak Ifa nggak ada drama nangis atau pun tantrum. Ketika dikasih 'amplop' buat beli hadiah sendiri, mbak Ifa langsung bilang ke ayah bunda kalau pengen beli hadiahnya saat itu juga. Lalu kami jelaskan baru bisa beli hadiah setelah acara keluarganya selesai. Bersyukur meski awalnya ngeyel, mbak Ifa mau sabar menunggu.

Begitu juga saat dia merasa ngantuk, lapar dan nggak nyaman di acara tersebut, mbak Ifa sudah berani mengungkapkannya pada ayah bunda. Perlahan tapi pasti, insya Allah mbak Ifa akan semakin cerdas sosial emosinya.

Sebuah catatan juga untukku, sebelum melejitkan kecerdasan emosional anak, maka aku juga harus menata dulu kecerdasan emosionalku. Bagaimana mungkin aku membantu anakku jika aku sendiri nggak bisa berenang dan hampir tenggelam to? Doakan mbak Ifa dan bundanya ya agar semakin baik tiap harinya. Terima kasih.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.


#tantangan_hari_ketiga
#game_level_3
#kelasbunsayIIP3
#kita_bisa 
#melejitkankecerdasan
#bundasayang
#familyproject
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email